Bendera partai dan baliho banyak tidak menjamin memikat simpati pemilih

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MANADO, BERITASULUT.co.id – Trend pemasangan bendara partai dan baliho di sejumlah sudut-sudut kota ternyata tidak menjadi jaminan bagi pasangan calon (paslon) untuk mampu memikat simpati pemilih jelang pencoblosan yang akan dilaksanakan 09 Desember 2020 mendatang.

Pemasangan baliho dan bendera partai yang terlalu dominan, justru membuat paslon akan kesulitan dalam mengukur kekuatan riil politik di teritorial tersebut.

Pemerhati sosial kemasyaratan Sulut Dirno Kagho dalam sebuah diskusi mengatakan, pemasangan bendera partai dan baliho yang berlebihan hanya sebatas membangun pencitraan calon namun tidak mampu membentuk sikap pemilih.

“Jangankah membentuk sikap pemilih, pemasangan bendera parpol dan baliho yang berlebihan tidak akan mampu menaikan tingkat elektabilitas calon kepala daerah maupun calon wakil kepala daerah,” ujar pengajar di salah satu PTS di Manado ini.

Contoh kasus menurut Dirno, produk Pemilu Legislatif tahun 2019 lalu.

“Ada banyak caleg yang justru kecewa dengan hasil perolehan suaranya yang jeblok bahkan tidak bisa meriah tiket DPRD. Padahal, hampir semua sudut-sudut perkotaan terpampang baliho pribadi dan bendera parpol yang mengusungnya,” beber Kagho yang juga Direktur Compaq Observasion ini.

Untuk itu, sebagai proses edukasi politik kepada masyarakat pemilih, dirinya mengingatkan agar pemilih tidak terjebak dengan dominannya bendera parpol dan baliho yang ada di suatu teritorial.

“Yang perlu dilakukan oleh paslon semestinya adalah bagaimana menaikan elektabilitas dimasing-masing wilayah dengan cara dan pola menyampaikan misi dan visi ataupun dengan melakukan blusukan politik langsung kepada pemilih,” jelas jebolan pasca sarjana Unsrat Manado ini.

Di Pilkada Serentak kali ini, baliho dan bendera parpol ada dimana-mana. Terlihat jika pemasangan bendera, satu rumah bisa dikelilingi sampai 10 buah bendera. Tak hanya itu, kuburan pun yang ditempati orang mati marak dengan bendera parpol dan baliho paslon.

Baca Juga:  Ketua Bawaslu Minsel hadiri Rakor Pengawasan dan Pembentukan PPK di Bawaslu Sulut

“Jangan dianggap remeh paslon yang justru tidak menampilkan bendera dan balihonya begitu banyak, tapi justru jaringannya terbentuk dengan rapih dan terukur di teritorial tersebut. Ini justru kondisi politik yang paling ditakutkan dan wajib diantisipasi oleh paslon,” tukas Kagho.(DONWU)