Hari ini Jakarta 493 tahun, tahukah ibukota negara kita 13 kali ganti nama?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Bundaran HI menjadi salah satu simbol DKI Jakarta.

JAKARTA – Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-493 pada Senin (22/6/2020) hari ini. Perayaan HUT Jakarta tahun ini pun jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, lantaran berlangsung pada masa pandemi Covid-19.

Jika sebelumnya, dalam rangkaian perayaan HUT Jakarta banyak diisi dengan kegiatan luar ruang dengan kerumunan besar, maka pada masa pandemi ini hanya dirayakan dengan kegiatan virtual.

Dilansir dari Wikipedia, DKI Jakarta adalah ibukota negara dan kota terbesar di Indonesia, dan merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa.

Dahulu pernah dikenal dengan beberapa nama di antaranya Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Di dunia internasional, Jakarta juga mempunyai julukan J-Town, atau lebih populer lagi The Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia.

Jakarta memiliki luas sekitar 664,01 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.557.810 jiwa (2019). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia.

Usia Jakarta nyaris 5 abad. Dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung, Jakarta kini berkembang menjadi kota metropolis. Tidak ada lagi rawa-rawa. Sejauh mata memandang, hanyalah gedung-gedung pencakar langit.

Tapi tahukah anda? Jakarta yang kini menginjak usia 493 tahun sudah 13 kali berganti nama. Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, cikal bakal Jakarta adalah sebuah kota bernama Kalapa. Laporan para penulis Eropa di abad 16 menyebutkan, Kalapa saat itu menjadi bandar utama kerajaan Hindu bernama Sunda yang ibukotanya Padjajaran.

Baca Juga:  Heboh kepala dinas TikTok joget-joget dengan wanita cantik di atas meja kantor

Namun pada 22 Juni 1527, Fatahillah yang kemudian menjadi penguasa mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Sesuai Keputusan DPR Kota Sementara Nomor 6/D/K/1956, tanggal itu kemudian dicanangkan sebagai hari jadi kota Jakarta.

Berikut nama-nama yang pernah menjadi sebutan untuk Jakarta:

1. Pada Abad ke-14 bernama SUNDA KELAPA sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran

2. Tanggal 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi JAYAKARTA

3. Tanggal 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama STAD BATAVIA

4. Tanggal 1 April 1905 berubah nama menjadi GEMEENTE BATAVIA

5. Tanggal 8 Januari 1935 berubah nama menjadi STAD GEMEENTE BATAVIA

6. Tanggal 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi JAKARTA TOKO BETSU SHI

7. Pada September 1945 pemerintah kota Jakarta memberi nama KOTA JAKARTA

8. Tanggal 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan Pre Federal berubah nama kembali menjadi STAD GEMEENTE BATAVIA

9. Tanggal 24 Maret 1950 diganti menjadi KOTA PRAJA JAKARTA

10. Tanggal 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai daerah swatantra dinamakan KOTA PRAJA DJAKARTA RAYA

11. Tahun 1961 dengan PP Nomor 2 Tahun 1961 jo UU Nomor 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah DAERAH KHUSUS IBUKOTA (DKI) JAKARTA RAYA

12. Tanggal 31 Agustus 1964 dengan UU Nomor 10 tahun 1964 dinyatakan DKI Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama JAKARTA

13. Tahun 1999, melalaui UU Nomor 34 Tahun 1999 tentang Pemerintah Provinsi DKI Negara Republik Indonesia Jakarta, sebutan kembali menjadi DKI JAKARTA, dengan otonominya tetap berada di tingkat provinsi dan bukan pada wilayah kota.

Singkatnya, sejak kemerdekaan sampai sebelum tahun 1959, Jakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Jakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur.

Baca Juga:  Beredar video dokter wanita bugil lantaran Covid-19?

Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Chusus Ibukota (DCI, sekarang dieja Daerah Khusus Ibukota/DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.

Semenjak dinyatakan sebagai Ibukota Negara, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta.(WIKI)