MTPJ GMIM 17-23 November 2019: Tuhan itu baik pada umat-Nya, tetapi menghukum lawan-Nya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

TEMA BULANAN: Firman Tuhan Penuntun Hidup Sejahtera Berkeadilan

TEMA MINGGUAN: Tuhan itu Baik pada Umat-Nya, tetapi Menghukum Lawan-Nya

BACAAN ALKITAB: Nahum 1:1-8

Kehidupan orang percaya mengalami banyak persoalan, tekanan dan penderitaan yang seakan tiada habisnya. Dari tahun ke tahun kita mendengar terjadi penindasan terhadap orang percaya di berbagai pelosok dunia, tak terkecuali juga di negara yang kita cintai. Terkadang sering terjadi disharmoni apalagi dalam soal beragama.

Orang percaya menghadapi situasi yang tidak menentu, mau beribadah tapi tempat ibadahnya ditutup bahkan dibongkar dan ingin membangun rumah ibadah tapi prosedurnya sangat sulit. Tidak bisa serta merta mendirikannya karena ijinnya yang berbelit-belit bahkan sering dihambat.

Di tengah situasi demikian, mungkin ada yang mempertanyakan, “Dimanakah Tuhan ketika umat-Nya berseru? Apakah Tuhan akan berdiam diri dan tidak bertindak mengatasi berbagai persoalan dan pergumulan manusia?”

Tema “Tuhan itu baik pada umat-Nya tetapi menghukum lawan-Nya” kali ini menjadi perenungan sepanjang minggu berjalan ini dengan maksud memberikan pemahaman bahwa pasti Tuhan akan bertindak, tidak selamanya Ia berdiam diri dan membiarkan orang yang percaya kepada-Nya sengsara bahkan menderita. Kita harus tetap yakin bahwa ada waktunya Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya dan ketika Ia bertindak tidak ada yang dapat menandingi-Nya. Semua ada waktunya dan waktu Tuhan selalu yang terindah bagi umat-Nya.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Nama “Nahum” berarti “penghiburan” atau “berbelas-kasihan/mengasihani”. Sedangkan Elkosh tempat asalnya. Tradisi dari abad 16 M menempatkan Elkosh berada 50 mil di sebelah utara kota modern Mosul (dekat reruntuhan kota Niniwe). Kitab Nahum ini ditulis sekitar tahun 633 sM-612 sM.

Nabi Nahum menyampaikan tentang kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Allah yang ia percayai adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan tidak akan membiarkan umat-Nya mengalami penindasan oleh bangsa Asyur. Pada saat itu, Asyur terkenal karena  tidak berperi-kemanusiaan dan bertindak kejam. Mereka tidak segan-segan membunuh tahanannya di muka umum. Kepala para tawanan dipancung. Setiap daerah jajahan dibebani dengan pajak yang sangat tinggi. Asyur pernah menyerang dan mengalahkan Kerajaan Utara (Israel) pada tahun 722 SM dan menjadi ancaman bagi Kerajaan Selatan (Yehuda).

Baca Juga:  Forum Pemuda GMIM Lintas Generasi kritisi Pasal ‘Sekolah Minggu’ di RUU Pesantren

Bagian Alkitab ini juga, sering diterjemahkan sebagai syair akrostik (mengikuti susunan abjad bah. Ibrani) yang sama dengan Mazmur. 111, 112 yakni: “Alep”,  Tuhan itu Allah yang cemburu (ay.2), “Bet”,  Ia berjalan dalam puting beliung dan badai (ay. 3), ”Gimel”,  Ia menghardik laut dan mengeringkannya (ay.4), “He”,  gunung-gunung gemetar terhadap Dia (ay.5a). ”Waw”, Bumi menjadi sunyi sepi di hadapan-Nya (ay.5b), “Zayin”, Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya (ay.6a), “Het”, kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api (ay.6b).”Tet”, Tuhan itu baik (ay.7a), “Yod”,Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya (ay.7b). “Kap”, Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia (ay.8).

Penggambaran ini menyatakan tentang siapa Allah yang dipahami oleh bangsa Israel. Pembalasan yang datang dari Allah sungguh luar biasa. Bangsa Asyur yang sudah menindas umat Israel pasti akan dilenyapkan. Nubuat Nahum telah terbukti. Kota Ninewe, ibu kota kerajaan Asyur memang pernah bertobat akibat khotbah nabi Yunus sekitar 100 tahun sebelumnya, namun mereka kembali menyembah berhala, menindas dan bertindak kejam. Akhirnya hancur pada tahun 612 sM ketika ditaklukkan oleh persekutuan Babel, Media dan Skit.

Nabi Nahum menggambarkan Tuhan itu, Allah yang cemburu dan pembalas itu. Kata cemburu (Ibr: qannow’; jealous, cemburu) menunjuk pada semangat Tuhan untuk melindungi umat-Nya bukan pada sikap emosional yang membabi buta. Suatu bentuk tindakan kasih Allah untuk memproteksi umat-Nya. Di sinilah kecemburuan dipadankan dengan kesabaran. Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya.

Tuhan itu baik dan menjadi tempat perlindungan bagi umat-Nya. Allah yang diimani oleh orang Israel adalah Allah yang aktif bertindak  bukan Allah yang diam dan bisu. Melainkan Allah yang peduli terhadap pergumulan umat-Nya. Dia menjadi tempat pengungsian pada waktu kesusahan. Inilah refleksi iman umat atas pengalaman sepanjang ziarah kehidupan mereka.

Baca Juga:  Lantik Panji Yosua PKB GMIM Musafir Kleak, ini pesan Pnt GSVL

Allah Perjanjian Lama bukanlah Allah yang penuh murka melaikan kebaikan adalah hakikat Allah. Kebaikan-Nya terus menerus dan berlanjut kepada setiap orang. Kesalahan dan dosa tidak akan memegaruhi kebaikan-Nya. Ia mengenal (Ibr: yada’ mengetahui, memahami) orang-orang yang berlindung pada-Nya. Tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Inilah bentuk pengharapan umat yang tengah mengalami penindasan.

Makna dan Implikasi Firman

Tuhan adalah Allah yang tetap menyertai kehidupan orang percaya sepanjang masa. Dunia boleh berubah sedemikian cepatnya, tetapi kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Kita terus menyakini bahwa Tuhan itu baik dan selalu menjadi tempat pengungsian dan perlindungan bagi kita. Ia akan memberikan kemampuan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan.

Tuhan adalah Allah yang cemburu dan pembalas. Ia memang penuh kasih sayang tapi tidak berkompromi dengan dosa. Setiap perbuatan manusia selalu dalam pengawasan-Nya. Itu berarti ketika kita hidup hendaknya melakukan yang terbaik bagi Tuhan dengan menjadi berkat bagi banyak orang. Bukan mempergunakan hidup ini untuk melakukan ketidakadilan, bertindak semena-mena, kejam, tidak berprikemanusian dan sebagainya. Bila saatnya tiba, masing-masing kita akan mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan kepada Tuhan.

Bila kita menghadapi penganiayaan, kebebasan beribadah dihambat, izin pembangunan gereja ditolak, penutupan gereja dan lainnya, maka kita diajak untuk mendoakan dan terus melakukan kebaikan kepada mereka yang melakukan hal-hal ini. Jangan menghakimi apalagi membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab pembalasan itu bukan hak kita, tapi haknya Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan akan bertindak, sebab tidak selamanya Ia berdiam diri.

Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang panjang sabar. Ia masih memberikan kita waktu untuk bertobat. Marilah kita meresponi kebaikan Tuhan ini. Ketika masih ada kesempatan, marilah kita memperbaiki diri, merubah apa yang tidak baik menjadi baik. Ketika kita diberi waktu untuk bekerja, berkarya dan melayani Tuhan lakukanlah dengan segenap hati dan kesungguhan, supaya hidup ini berkenan kepada Tuhan.

Baca Juga:  Bersih-bersih lingkungan jadi rangkaian Pencanangan HRG GMIM Bethel Winangun

Kita memiliki pengharapan seperti yang disampaikan Petrus kepada jemaat yang menanti kedatangan hari Tuhan: Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:9).

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

Apa yang kita pahami tentang pernyataan bahwa Allah itu baik pada umat-Nya tetapi menghukum lawan-Nya menurut perikop dalam Nahum 1:1-8?

Bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi tantangan dan hambatan bagi pertumbuhan Gereja Tuhan masa kini. Berikanlah contoh!

NAS PEMBIMBING: Mazmur 35:22-23

POKOK-POKOK  DOA:

Kesiapan jemaat menghadapi pergumulan dengan tindakan iman

Penutupan gedung gereja dan  hambatan untuk  beribadah.

Kebijaksanaan Pemerintah dan masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama.

Warga gereja diberi ketabahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Korban ketidakadilan, diskriminasi, dan tindakan yang tidak berprikemanusian lainnya

(DODOKUGMIM)