MTPJ GMIM 21-27 Juni 2020: Hindari peseteruan, jadilah berkat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bacaan Alkitab: Filipi 4:1-9

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pandemi Covid-19 adalah bencana yang telah melanda seluruh dunia. Hampir tak ada manusia yang tidak terdampak dengan wabah ini. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

Di lain pihak dengan keadaan social distancing dan himbauan tinggal di rumah saja, banyak orang menjadi depresi. Akibatnya banyak yang menjadi sensitif dan mudah marah. Sebuah penelitian mempublikasi bahwa dalam masa pandemic Corona, telah terjadi banyak pertengkaran dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Media social seperti Facebook, Tweeter dan lain-lain banyak menyuguhkan berbagai debat yang disertai dengan kata-kata kasar dan makian. Begitu gampangnya orang saling menghakimi serta cenderung membenarkan diri sendiri. Bahkan pemerintah sering dipersalahkan dalam cara penanganan virus ini. Para pemimpin umat tak jarang juga jadi korban bullying dan dan kecaman. Padahal banyak aparat, dan tenaga medis bekerja siang malam untuk melawan corona bahkan ada yang jadi korban.

Sebagai orang beriman kita memahami bahwa semua bencana, perang dan kelaparan di dunia ini, sudah dinubuatkan dalam firman-Nya. Artinya Tuhan tahu berbagai kesukaran akan menimpa umat-Nya. Tuhan menghendaki orang percaya untuk tidak goyah, berjaga-jaga dan siap sedia apabila waktu itu tiba. Oleh karena itu MTPJ kali ini diberi tema: “Hindari Peseteruan, Jadilah Berkat”.

PEMBAHASAN TEMATIS

Kota Filipi terletak di Makedonia Timur yang merupakan bagian dari daratan Eropah. Filipi didirikan oleh oleh raja Makedonia, Filipus II ayah Alexander Agung tahun 356 SM. Pada masa kekaisaran Romawi, kota ini dijadikan sebagai basis militer dan juga sebagai pertahanan terluar.

Paulus, Lukas, Silas dan Timotius melakukan peng-injilan di kota ini sekitar tahun 50 M. Mereka disambut baik, khususnya seorang pedagang kain kaya yang bernama Lidia. Keluarga Lidia bertobat dan merekalah cikal bakal jemaat Filipi. Kemudian ada nama-nama seperti Klemens, Sunsugos dan Epafras yang menjadi tulang punggung pelayanan di jemaat ini. Tetapi tidak kalah penting juga dua tokoh perempuan yakni Euodia dan Sintikhe.

Baca Juga:  MTPJ GMIM 31 Mei s/d 6 Juni 2020: Peristiwa Pentakosta bukti Tuhan bisa pakai siapa saja untuk menjadi alat-Nya

Secara emosional hubungan Paulus dengan umat di Filipi sangat dekat. Kasih mesra mereka yang tulus dan mereka sangat mempedulikan kebutuhan Paulus. Khususnya untuk mendanai pelayanannya ke berbagai kota di Asia Kecil. Begitu pula ketika mendengar Paulus ditangkap dan dipen-jarakan di Roma, mereka sangat prihatin.

Oleh karena itu jemaat mengutus Eprafas untuk membawa dana bantuan dan melayani Paulus dalam penjara. Paulus selalu merindukan jemaat Filipi, bahkan menyebut mereka sebagai mahkota penginjilannya (1). Dari Epafras Paulus banyak mendengar perkembangan dan dinamika jemaat Filipi.

Kekristenan di abad pertama menghadapi banyak sekali kesulitan. Kaisar Romawi sangat membenci orang Kristen. Menghadapi orang-orang kristen yang tidak mau memuja kaisar sebagai dewa, masyarakat yang cenderung menindas umat Tuhan. Di lain pihak secara umum jemaat juga menghadapi berbagai tekanan dan gangguan dari nabi-nabi palsu dan para penyesat. Itulah sebabnya di mana-mana para rasul Tuhan dan banyak orang percaya ditangkap, dibunuh atau dipenjarakan, termasuk Paulus.

Dalam bagian firman Tuhan ini, Paulus meminta jemaat senantiasa berdiri teguh (ay.1). Jangan goyah menghadapi kondisi apapun. Disiplin militer menginspirasi pemikiran Paulus. Salah satu karakter prajurit yang perlu di contohi oleh orang-orang Kristen adalah keteguhan dan kedisiplinan.

Prajurit Roma terkenal dengan ketangguhannya dan gagah berani dalam medan pertempuran. Karakter ini juga yang harus dimiliki oleh orang percaya. Disiplin rohani mem-perteguh dan mengokohkan iman kepada Tuhan dalam mengadapi segala situasi dan kondisi.

Jemaat Filipi sedang menghadapi konflik internal yang dipicu karena perseteruan antara Euodia dan Sintikhe (ay. 2). Tidak dijelaskan apa yang menjadi penyebab konflik di antara mereka. Akan tetapi tentu hal ini membuat pelayanan di Filipi mengalami gangguan dan terjadinya kemunduran jemaat. Itulah sebabnya Paulus menasehati kedua wanita yang berseteru itu berdamai dan kembali sehati sepikir.

Baca Juga:  Di hadapan ribuan P/KB GMIM, GSVL: Kita doakan pelantikan Presiden dan Wapres aman dan lancar

Paulus juga meminta Sunsugos dan Klemens (ay.3), untuk bantu menasihati/menggembalakan mereka. Euodia dan Sintikhe diminta untuk mengesampingkan perbedaan di antara mereka. Bahwa nama mereka sudah termasuk dalam buku kehidupan (keselamatan sorgawi).

Ini sebagai anugerah luar biasa maka tidak ada yang lebih penting lagi dari hal tersebut. Termasuk mempertahankan kebenaran mereka masing-masing. Tentu sangat disayangkan apabila buah pelayanan membangun jemaat Filipi yang telah mereka rintis bersama di masa lalu, dirusakkan oleh perseteruan.

Selanjutnya Paulus menyerukan supaya jemaat harus senantiasa bersukacita. Dua kali Paulus menegaskan hal ini (ay.4) bersukacita di dalam Tuhan. Selanjutnya, tentang kebaikan hati (5). Kebaikan adalah manifestasi dari kehadiran-Nya, “Tuhan sudah dekat”.

Tuhan menghendaki semua orang percaya mampu memiliki sifat-Nya tersebut. Sehingga orang lain dapat melihat kasih dan kemurahan-Nya, melalui cara hidup jemaat. Keteguhan iman, sukacita dan kebaikan hati jemaat Filipi adalah kesaksian yang hidup. Paulus telah merasakan hal tersebut, semasa ia hidup di tengah-tengah mereka.

Dengan tegas Paulus “melarang” umat untuk kuatir. Apapun persoalan yang terjadi jangan kuatir. Sebaliknya berdoa dan sampaikan seluruh isi hati kepada Tuhan sambil mengucap syukur. Mereka sudah menyaksikan segala mujizat yang telah Tuhan nyatakan selama Paulus melayani dan hidup di tengah mereka.

Bahwa damai sejahtera yang dari Tuhan menjadi bukti pemeliharaan dan penghiburan Tuhan terhadap umat (ay.7) selama masa kesukaran. Shalom Tuhan memberikan kesanggupan dan dan keberanian bagi umat menghadapi tantangan apapun.

Pada akhirnya Paulus mengajak mereka untuk benar-benar dapat mengendalikan hati dan pikiran dengan segala kebaikan. Memikirkan dan memperkatakan semua yang baik berdasarkan firman-Nya, dapat menambahkan hikmat dan kebajikan (8).

Paulus menutup nats ini dengan memberi motivasi kepada jemaat Filipi untuk belajar dari teladan dan pengajaran yang telah dia contohkan semasa hidup dan melayani di tengah-tengah bersama mereka (9). Maka damai sejahtera-Nya menyertai umat meskipun menghadapi kesesakan.

Baca Juga:  Silaturahmi dengan peserta KGM X PGI, Jokowi: Rugi kalau tidak nyoblos 17 April

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

Menghadapi persoalan apapun di dunia ini, termasuk penyebaran Virus Corona atau Covid-19, jemaat harus tetap bediri teguh, kokoh dan tidak boleh goyah sedikitpun. Tekanan hidup yang muncul jangan menye-babkan orang percaya kehilangan jati diri sebagai pengikut Kristus. Kadang kala tekanan hidup menyebabkan orang gampang marah dan meluapkan dalam perkataan dan perbuatan yang menyakiti orang lain. Akibatnya bisa terjadi segala hal yang tidak kita kehendaki.

Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh darah Kristus, orang percaya harus mengambil inisiatif untuk berdamai mengesampingkan semua perbedaan dan saling meng-ampuni. Karena untuk itu umat percaya dipanggil untuk bersaksi tentang kasih dan kebaikan Tuhan kepada dunia ini. Termasuk di dalamnya menyatakan kehadiran Tuhan di dunia ini, antara lain berdiakoni bagi mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Perilaku hidup sebagai orang yang suka berdamai, murah hati, ramah, sopan, berpikir dan bertutur kata baik harus jadi keseharian orang percaya. Menghargai pemerintah termasuk di dalamnya tenaga medis banyak orang yang berada di garda terdepan memerangi covid-19. Termasuk di dalamnya saling menghargai sesama anggota jemaat dan menghargai pelayan Tuhan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

1. Apa yang saudara pahami tentang tema: “Hindari Perseteruan, Jadilah Berkat” berdasarkan bacaan dalam Filipi 4:1-9?
2. Bagaiamana seharusnya sikap orang beriman dan apa yang harus dilakukan gereja menghadapi ancaman pandemi Covid-19 jika belajar dari bagian Alkitab ini?.

NAS PEMBIMBING: Mazmur 133:1-3

POKOK-POKOK DOA:
– Agar jemaat selalu hidup teguh dalam pengharapan, hidup dalam perdamaian menghadapi ancaman pandemi Covid-19.
– Agar orang Kristen dapat menjadi saluran berkat di tengah-tengah masyarakat terketuk hatinya menopang kebutuhan hidup banyak orang yang butuh uluran tangan.(*)