MTPJ GMIM 24-30 November 2019: Katidakpedulian terhadap rumah Tuhan menutup berkat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

TEMA BULANAN: Firman Tuhan Penuntun Hidup Sejahtera Berkeadilan

TEMA MINGGUAN: Katidakpedulian Terhadap Rumah Tuhan Menutup Berkat

BACAAN ALKITAB: Hagai 1:1-2:1a

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ada beberapa kemungkinan yang membuat orang tidak peduli lagi kepada gereja.
Pertama, gereja dianggap tidak lagi mendengar mereka. Contohnya: orang yang berpindah golongan atau agama menuntut sesuatu yang lebih dari gereja.
Kedua, adanya beban hidup yang terlampau berat. Krisis kehidupan membuat mereka mengabaikan gereja, seperti yang terjadi pada orang-orang yang putus asa. Mereka menjadi apatis dan jenuh bergereja.
Ketiga, orang yang haus akan kekayaan dan jabatan. Kekayaan dan jabatan dianggap segala-galanya dengan motto “time is money”, maka gereja hanya menjadi pelengkap hidup saja.
Keempat, kemajuan zaman di era milenial ini, dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak orang menghabiskan waktunya dengan smartphone, sehingga orang tidak mau lagi bergereja karena dapat mendengarkan khotbah dari media elektronik.

Gereja sebagai “Rumah Tuhan”, tidak hanya dipahami sebatas bangunan fisiknya saja, melainkan menunjuk pada pribadi dan persekutuan orang percaya. Karena itu gereja harus bertumbuh dan berkembang baik bangunannya sebagai tempat di mana misi Allah digumuli dan dikerjakan maupun iman orang-orang percaya yang ada di dalamnya.

Jika warga jemaat tidak peduli lagi dengan gereja, bagaimanakah orang percaya dapat menjalankan panggilan gereja, untuk bersekutu, bersaksi dan melayani? Ketidakpedulian bukan hanya merusak kesaksian gereja, tapi juga menutup atau menjauhkan jemaat dari berkat-berkat-Nya.

Melalui sorotan tema  “Ketidakpedulian Terhadap Rumah Tuhan Menutup Berkat” orang percaya digugah untuk mewaspadai kegagalan memahami misi Allah bagi umat-Nya dan keterkaitan antara ketidakpedulian dengan berkat Tuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Hagai berarti ‘pesta’ atau ‘perayaan’. Nama ini memberi kesan bahwa mungkin ia dilahirkan pada hari raya, walaupun tak ada catatan yang mendukungnya. Hagai hanya dikenal melalui kitabnya dan disebut juga dalam kitab Ezra 5:1-2 dan 6:14. Ia memperkenalkan dirinya sebagai “Nabi Hagai” tanpa silsilah. Ia hidup sezaman dengan Zakaria dan Zerubabel sesudah pembuangan. Isu utama kitab Hagai adalah tentang pembangunan Bait Allah atau Rumah Tuhan. Inilah tugas yang harus dilakukan oleh sang nabi.

Baca Juga:  MTPJ GMIM 9-15 September 2018: Berkat bagi bangsa mulai dari keluarga

Menurut kesaksian Alkitab, semangat pembangunan rumah TUHAN, tidak berlangsung lama. Penolakan terhadap pembangunan rumah TUHAN datang dari suku-suku yang ada diperbatasan Israel. Mereka tidak menghendaki Israel kembali berjaya dan menjadi kuat dengan berdirinya rumah TUHAN.

Kerajaan Persia yang dimasa raja Koresy amat mendukung pembangunan rumah Tuhan dan menjadi pelindung utama Israel, di masa raja-raja sesudahnya mulai bimbang atas janji-janjinya bagi orang Yahudi. Baru kemudian pada masa raja Darius, pengkajian dan izin terhadap pembangunan rumah Tuhan dilanjutkan.

Menghadapi perlawanan dan penolakan ini, orang Yahudi mulai kehilangan semangat membangun rumah TUHAN dan lebih mengarahkan perhatian pada proyek-proyek yang lain. Akibatnya pembangunan rumah TUHAN tidak berjalan lancar atau dengan sengaja ditelantarkan.

Perhatian orang Israel tidak lagi tertuju pada pembangunan rumah TUHAN, melainkan beralih pada pembangunan rumah mereka masing-masing dan berlomba-lomba mendapatkan tanah milik mereka. Mereka melupakan motivasi awal ketika kembali ke Yerusalem.

Menghadapi sikap apatis (tidak peduli, masa bodoh) dan pementingan diri sendiri ini, tampillah nabi Hagai untuk menegur dan mengingatkan mereka. Teguran nabi Hagai tidak seperti Yeremia dan Yehezkiel yang keras dan tanpa ‘basa-basi’. Penyampaiannya berupa pertanyaan dengan maksud mengingatkan kembali tanggung jawab mereka terhadap rumah TUHAN yang patut jadi prioritas utama: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”

Nabi Hagai mengkritisi orang-orang Yahudi dan mengajak mereka untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh keadaan yang mereka alami. Apa yang sedang terjadi? Mereka telah bekerja keras, tapi apa yang mereka peroleh? Hasil panen mereka sangat sedikit. Pekerjaan dan usaha pun menjadi sia-sia karena tidak dapat dinikmati. Makan tidak sampai kenyang, minum tidak sampai puas dan walaupun berpakaian tetap merasa kedinginan. Upah yang diperoleh seperti ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang. Cepat habis begitu saja tanpa tersisa.

Baca Juga:  Khadim di GMIM Yerusalem Paaldua, Pnt GSVL bicara soal pasca Pemilu

Bagi Hagai, ini akibat prioritas yang salah. Bangsa Israel lebih mendahulukan kepentingannya sendiri, daripada mengutamakan dan menempatkan Allah di tempat yang utama. Mereka masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri, akibatnya rumah Tuhan terabaikan. Sepatutnya rumah Tuhan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan iman Israel. Rumah Tuhan melambangkan kehadiran Allah. Jika rumah Tuhan tetap menjadi reruntuhan, bagaimana Tuhan dapat dimuliakan dengan benar?

Maksudnya, membiarkan rumah Tuhan sama dengan menutup berkat yang disediakan-Nya (Band. Maleakhi 3:10). Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya. Kekeringan akan melanda ke atas negeri, gunung-gunung, gandum, anggur, minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah termasuk manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha. Sebaliknya bersikap peduli dan menopang pembangunan Rumah Tuhan akan menghadirkan berkat Tuhan. Ia tidak akan menutup pintu berkat-Nya bagi umat yang meresponi firman-Nya.

Suara kenabian Hagai menggerakkan semangat bupati, imam besar dan segenap bangsa Israel untuk membangun rumah TUHAN. Jaminan penyertaan dan berkat Tuhan pasti teralami dalam kehidupan umat Tuhan. Aku ini menyertai kamu, demikianlah Firman Tuhan.

Makna dan Implikasi Firman

Jaminan penyertaan dan berkat Tuhan bagi umat-Nya tidak pernah berkesudahan. Selalu baru setiap hari dengan segala kelimpahannya (Bnd Yohanes 10:10b) karena segala sesuatu adalah milik Tuhan. Apabila kita hidup bersama Tuhan,maka kita tidak akan kekurangan apa pun. “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah Firman Tuhan semesta alam. (Hagai 2:9) .

Kepedulian utama orang percaya adalah mendahulukan kepentingan dan kehendak Tuhan di atas kepentingan dan kehendak diri sendiri. Ajaran Yesus jelas tentang hal ini; “sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata; Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang kami pakai? …tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu,” (Matius 6:31,33).

Baca Juga:  Paruntu percayakan Pena Bilo jadi Ketum Lokakarya Visi Misi Remaja GMIM, ini susunan panitianya

Di sekitar kita atau mungkin kita diantaranya adalah orang-orang yang amat kritis terhadap penggunaan uang gereja. Upayakanlah sikap kritis ini selalu proporsional. Janganlah menghambat apalagi menjadi pelit atau ‘koncudu’. Orang-orang seperti ini, kelihatannya peduli terhadap gereja tetapi sebenarnya tidak peduli!

Banyak program gereja yang baik seringkali terabaikan dan tidak dapat dilaksanakan, karena adanya orang-orang yang lebih suka menghambat dari pada mendukung. Akibatnya, kita sering lebih suka mengumpulkan uang, daripada mempergunakannya untuk kepentingan yang bermanfaat bagi pelayanan gereja Tuhan.

Setiap kerja dengan tujuan yang baik dan mulia dalam bidang apa saja, tidak pernah lepas dari tantangan dan kesulitan. Sehingga putus asa dan kehilangan semangat dapat mewarnai kerja kita. Kerja pun terabaikan bahkan gagal.

Spiritualitas Nabi Hagai mengingatkan kita untuk tidak mudah putus asa dan patah semangat,  sejauh kerja itu untuk kepentingan yang baik, mulia, dan bermanfaat. Lakukanlah dengan sebaik-baiknya dan tuntas, agar Tuhan dimuliakan! Inilah wujud kepedulian kita pada gereja di mana kita hadir untuk bersekutu, bersaksi dan melayani.

Gereja memiliki peran strategis untuk menggerakkan dan membangkitkan terwujudnya sinergi di antara pemerintah, gereja dan masyarakat dalam pembangunan demi kesejahteraan seluruh anak bangsa. Peran ini harus terus ditumbuhkan dan ditingkatkan.

Berbagai sikap negatif yang menolak pembangunan seperti malas, masa bodoh dan pelit (tidak mau memberi) perlu menjadi sasaran pengembalaan gereja. Gereja harus menjadi pelopor dimana semangat berusaha, rajin bekerja dan suka memberi dapat menjadi kerja hidup bersama, di gereja dan masyarakat.

GMIM perlu menggalang kebersamaan di antara warga jemaat dengan semangat “mapalus” untuk membantu pembangunan gereja, sekolah dan fasilitas pelayanan lainnya. Contohnya jika tiap jemaat  berkontribusi 1 sak semen akan terkumpul hampir 1000 sak semen.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

Mengapa umat tidak peduli terhadap pembangunan ‘rumah Tuhan’menurut Hagai 1:1-2:1a?

Adakah hubungan antara kepedulian membangun rumah Tuhan dengan kehidupan sehari-hari?

Berbagilah dengan singkat tentang pengalaman iman saudara yang mendahulukan kepentingan Tuhan?
(DODOKUGMIM)