MTPJ GMIM 26 Juli – 1 Agustus 2020 : Jadikanlah rumah kita betul-betul ”home”, bukan “house”

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BACAAN ALKITAB: Markus 2:1-12

NAS PEMBIMBING: Yesaya 53:4

Alasan Pemilihan Tema

Pandemi Virus Corona (Covid-19) telah mengakibatkan kelumpuhan di berbagai sektor kehidupan. Tidak hanya mengakibatkan kematian tetapi juga memengaruhi kondisi psikis (mental), fisik, ekonomi, sosial, keagamaan dan sebagainya.

Upaya menekan penyebaran virus ini maka warga masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak dengan melakukan segala aktivitas di rumah, baik belajar, bekerja maupun beribadah bahkan di beberapa daerah telah dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan dan menakutkan ini, orang percaya selalu diingatkan untuk melihat campur tangan Tuhan mengatasi realitas hidup ini. Kita mengimani tentang Tuhan yang menyembuhkan (YHWH RAPHA, Kel 15:26).

Ia pasti akan memulihkan umat-Nya dan dunia ciptaan-Nya. Keyakinan iman ini harus berimplementasi dalam pelayanan gereja baik secara pribadi maupun sebagai suatu persekutuan.

Gereja tidak boleh berdiam diri melainkan turut menghadapi realitas yang “menyakitkan” ini, sambil menunggu semua akan pulih seperti sedia kala atau normal kembali.

Gereja harus berpikir kreatif dan bertindak logis mengatasi situasi yang pelik di dalam tuntunan Firman Tuhan, yaitu dengan mewujudkan pelayanan penyembuhan yang dilakukan Yesus di tengah dunia ini. Itulah partisipasi aktif gereja dalam mengemban Misi Kristus, yaitu Pelayanan Gereja yang Menyembuhkan.

Pembahasan Tematis

Injil Markus adalah Injil yang paling pendek dan juga merupakan Injil yang paling tua. Penulis Injil ini banyak berkisah tentang mujizat dan penyembuhan yang dilakukan Yesus. Secara khusus, Markus 2:1-12 menuturkan kisah penyembuhan Yesus terhadap orang lumpuh. Beberapa pemahaman teologis yang dapat dieksplorasi dari perikop ini

Berita kedatangan Yesus ke Kapernaum tersiar dengan cepat, yang membuat banyak orang berdatangan memenuhi rumah (Yun=oikos) di mana Ia ada. Begitu banyaknya orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat bahkan di muka pintu pun tidak. Keadaan ini menunjukkan bahwa banyak orang membutuhkan kehadiran Yesus dan pengajaran-Nya.

Kapernaum adalah kota nelayan yang penting yang terletak di utara Danau Galilea. Pada masa itu, kota ini merupakan pangkalan pasukan Roma yang bertugas mengawasi pelaksanaan pemungutan cukai. Penduduk Galilea adalah etnis campuran antara orang Yahudi dan penduduk di sekitarnya. Oleh orang Yahudi Yudea, mereka dianggap tidak murni lagi atau najis dari sisi moral, fisik dan agama. Akibatnya, kaum tersebut dipinggirkan (termarginal) dan dilarang untuk bergaul dengan mereka.

Justru penulis Injil Markus (Pasal 1:21-9:50) lebih banyak menceritakan tentang pelayanan Yesus di Galilea. Stigma orang Yahudi terhadap orang Galilea dipulihkan oleh kedatangan Yesus, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa.”(Markus 2:17).

Baca Juga:  Peduli Sulteng, Pemuda GMIM tak hanya bawa bantuan tapi juga hibur anak-anak

Pemberitaan Firman dan penyembuhan orang lumpuh terjadi di sebuah rumah. Rumah yang dimaksudkan di sini adalah tempat dimana Yesus tinggal, namun ada juga yang mengatakan bahwa rumah ini adalah rumah Simon (1:29). Rumah dimasa itu memiliki atap yang datar dengan tangga di sampingnya terbuat dari balok dan papan yang ditutupi tanah sehingga orang dengan mudah naik ke atasnya.

Orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh (Yun=paralutikos) yang digotong oleh empat orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa orang itu tidak dapat lagi menggerakkan tubuhnya. Ia membutuhkan pertolongan orang lain. Mereka yang peduli atas kondisinya dan tidak ingin ia terus mengalami penderitaan.

Oleh karena pintu rumah dipenuhi oleh banyak orang, mereka naik ke atas atap, membukanya dan menurunkannya tepat di depan Yesus. Tindakan ini bukanlah tindakan serampangan atau tidak bertanggungjawab tetapi dilandasi dengan keyakinan iman bahwa hanya Yesus yang dapat menyembuhkan yang sakit.

Suatu tindakan imaniah yang mendorong dan menggugah rasa kemanusiaan agar bersikap peduli terhadap orang yang menderita. Mereka percaya kalau orang lumpuh itu berjumpa dengan Yesus, ia pasti dapat berjalan lagi. Tindakan untuk saling membantu ini adalah perwujudan dari iman mereka kepadaYesus.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Perkataan Yesus ini tidak menunjukkan bahwa sakit itu diakibatkan oleh dosa orang itu. Hal ini pernah ditanyakan oleh murid-murid Yesus mengenai orang yang dilahirkan buta, Ia menjawab, “bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:1-3).

Kendati ada juga kemungkinan penyakit yang disebabkan oleh kesalahan atau pola hidup yang kurang sehat. Namun perkataan ini lebih menegaskan padahal yang esensi bahwa Yesus memiliki otoritas (kuasa) untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang sakit, bukan pada pembenaran stigma bahwa orang sakit karena dosa. Semua manusia membutuhkan pengampunan dosa dan keselamatan daripada- Nya.

Beberapa orang ahli Taurat yang juga duduk disitu, berpikir dalam hatinya bahwa yang dilakukan Yesus itu menghujat Allah. Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya apa yang dipikirkan mereka. Ia menjawab cara berpikir mereka yang salah ini dengan mengatakan supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.

Kepada ahli Taurat, Yesus mengajar mereka untuk berpikir yang benar bahwa Ia berkuasa untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang sakit. Sekiranya mereka mau mendengar dan membuka hati terhadap pengajaran Yesus ini, mereka akan disembuhkan dan diselamatkan oleh-Nya.

Baca Juga:  Safari Natal di Manado Tua, Walikota GSVL ingatkan soal Taman Laut Bunaken

Kepada orang lumpuh, Ia mengatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! ”Kuasa penyembuhan Yesus harus ditindaklanjuti dengan ketaatan pribadi. Perkataan Yesus ini adalah suatu kalimat perintah yang harus dikerjakan dengan segera (cepat), bangunlah, angkatlah dan pulanglah.

Orang lumpuh yang tidak berdaya, kini oleh kuasa Yesus diberdayakan. Ia yang lumpuh dalam aktivitasnya, kini bisa bangkit dari keterpurukkannya, ia yang biasa hidup dari bantuan orang, kini bangkit untuk mandiri. Ia yang biasa bergantung dari iman orang lain, kini imannya makin diteguhkan. Yesus memberikan penyembuhan totalitas baginya, tidak hanya fisiknya tapi juga psikis dan rohaninya.
Tindakan Yesus yang membuat orang lumpuh berjalan dan dengan mandiri melakukan aktivitasnya membuat orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu takjub lalu memuliakan Allah, “Yang begini belum pernah kita lihat. ”Mujizat yang dilakukan Yesus seharusnya menuntun orang untuk percaya, takjub dan memuliakan Allah.

Makna dan Implikasi Firman

Wabah pandemi Covid-19 (virus corona) telah mengakibatkan banyak orang di seluruh dunia mengalami sakit dan penderitaan. Tidak hanya fisik, tetapi juga psikis; dipenuhi ketakutan dan kekuatiran, diberi stigma penderita virus corona, PDP, ODP, tidak dapat lagi bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kelaparan, mengalami kelumpuhan usaha, kehilangan anggota keluarga, tidak dapat lagi beribadah bersama dan sebagainya.

Di tengah situasi ini, banyak orang membutuhkan pengajaran Firman yang meneduhkan dan menguatkan hati. Yesus yang datang di Kapernaum datang menjumpai kita yang sakit dan menderita. Pergumulan ini jangan membuat iman kita tidak berdaya tetapi seharusnya lebih teguh, lebih berjaya, sebab kita punya Tuhan yang menyembuhkan (YHWH RAPHA).

Pemberitaan Firman dan penyembuhan orang lumpuh terjadi di dalam rumah. Yesus pun hadir di rumah kita, mendengar doa dan menjawab pergumulan kita. Tidak ada ruang yang membatasi kehadiran Tuhan, dimanapun kita berseru kepada-Nya, Ia akan menolong kita. Ia sanggup membangkitkan kita dari keadaan yang tak berdaya, sehingga kita dapat mandiri dan bangkit dari kesulitan hidup.

Mari jadikanlah rumah kita betul-betul ”Home bukan House” bukan sekedar gedungnya (house) tetapi sebagai rumah doa, tempat ibadah kita dengan Tuhan dan tempat dimana setiap anggota keluarga dikasihi dan dihargai sebagaimana adanya.

Physical Distancing (jaga jarak) yang dilakukan dalam mengantisipasi penyebaran cepat virus corona, janganlah membuat kita menjaga jarak dengan Tuhan seharusnya makin sungguh-sungguh berdoa dan beribadah. Kualitas ibadah di rumah tidak berbeda dengan kualitas ibadah di gereja, yang penting bukan tempatnya tetapi ibadah untuk memuliakan Tuhan.

Baca Juga:  GSVL beribadah syukur HUT GMIM Bukit Kalvari Karombasan

Jaga jarak bukan berarti juga menjaga jarak kema-nusiaan dengan orang lain tetapi seharusnya membuka ruang kehidupan untuk semakin peduli terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain.

Seperti halnya beberapa orang yang menggotong orang lumpuh kepada Yesus, maka sikap iman kita adalah bekerja bersama (bergotong royong) mengantar orang untuk menemukan kehidupan yang sesungguhnya, membantu kesulitan mereka, berbagi makanan, serta meno-pang mereka yang berada digarda terdepan; tim medis, peme-rintah, TNI-Polri, Relawan, Awak media dan lain sebagainya. Dengan demikian banyak orang akan menemukan Yesus dalam kesulitannya, takjub dan memuliakan Allah.

Kita pun harus meniadakan stigma terhadap penderita virus corona dan keluarganya. Mereka bukan aib bagi masyarakat. Tuhan Yesus memberikan kita keteladanan ketika Ia menghapus stigma orang Yahudi terhadap orang Galilea, orang lumpuh dan ahli Taurat terhadap pengampunan dosa yang dilakukan-Nya. Stigma yang buruk hanya akan menutup ruang kehidupan orang lain. Karena itu, Yesus datang untuk memulihkan kita secara utuh dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia serta dunia ini.

Gereja harus berperan aktif dalam mengemban misi Kristus untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dunia (Bdk Yesaya 53:4). Dengan demikian, gereja harus menjadi gereja yang menyembuhkan, tidak hanya dalam membangun rumah sakit, menambah fasilitas pelayanan kesehatan tetapi juga berkaitan dengan pelayanan penyembuhan secara holistik (ekonomi, sosial, dsbnya).

Gereja harus berada di garda terdepan untuk menggalang kebersamaan di antara anggota jemaat dan masyarakat agar pelayanan penyembuhan dapat ditanggapi dengan segera sehingga tidak ada orang yang mengalami kelumpuhan hidup, melainkan bangun (bangkit dari keterpurukan), angkat tilammu (berdayakan diri) dan berjalan (beraktivitas secara mandiri). Kita berusaha melakukan yang terbaik agar nama Tuhan Yesus terus dimuliakan.

Pertanyaan untuk diskusi:

1. Bagaimana Penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap orang lumpuh?
2. Jelaskanlah bagaimana cara orang-orang membawa orang lumpuh kepada Yesus dan nilai-nilai pesan firman apa yang dapat kita pelajari dari tindakan itu?
3. Apa yang harus dilakukan gereja dalam pelayanan penyembuhan?

Pokok-Pokok Doa:

– Belas kasihan Tuhan untuk memulihkan pandemic virus corona.
– Pelayanan Gereja yang menyembuhkan.
– Orang sakit, penderita virus corona dan keluarganya.
– Orang yang menderita kemiskinan, kelaparan dan mengalami kelumpuhan ekonomi.
– Pemerintah, TNI-POLRI, Tim Medis, Relawan.
– Tersedianya sembako, Peralatan Medis dan APD.(*)