MTPJ GMIM 30 Agustus – 5 September 2020: Bersama bertanggungjawab atas kesusahan, beban dan perkara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

BACAAN ALKITAB: Ulangan 1:9-18

Alasan Pemilihan Tema

Demokrasi adalah suatu system kekuasaan yang sangat popular. Secara etimologi, demokrasi berasal dari bahasa Yunani “demokratia”, yang berarti “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan).

Sifat kebersamaan yang tertuang dari pengertian kata demokrasi itu, mengantar kita untuk melihat bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk melakukan tanggungjawabnya, walaupun praktek hidup berdemokrasi dalam iman Kristen harus kita hubungkan dengan Kristokrasi yang di dalamnya Kristus memerintah untuk kemuliaan-Nya (Roma 11:36), sehingga tanggung jawab bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain melainkan untuk kemuliaan Kristus (Galatia 6:2).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai cara hidup manusia yang individualis dalam arti hidup untuk kepentingan dan mengutamakan diri sendiri, dan yang cenderung tidak peduli dengan kesusahan, beban dan perkara yang dialami oleh orang lain, termasuk di lingkungan keluar-ganya sendiri, misalnya keluarga yang satu tidak lagi mem-pedulikan kesusahan tetangganya, atau anak tidak peduli dengan pergumulan orang tuanya, kakak tidak memperhati-kan beban hidup adiknya; dan sebaliknya.

Bahkan dalam pelayanan, termasuk kepemimpinan pelayanan jemaat/ gereja, sering kita jumpai ada orang (warga jemaat atau Pelayan Khusus) yang dengan gigih ikut bersama dalam pergumulan pelayanan termasuk mengatasi pendemi corona, tapi ada juga yang bermasa-bodoh, dan cenderung tidak peduli.

Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dipilihlah tema: “Bersama bertanggungjawab atas kesusahan, beban dan perkara”, yang pada intinya memotivasi kita, baik pelayan khusus maupun warga jemaat agar dapat mem-bangkitkan semangat bersama dalam rangka bertanggung-jawab terhadap semua hal yang berhubungan dengan pergumulan dan beban kehidupan sesamanya.

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Ulangan adalah salah satu Kitab Perjanjian Lama dan salah satu dari lima kitab yang ditulis oleh Musa (Ulangan 31:9, 24-29; Bilangan 4:44-46; 29:1). Kitab ini berisi penyampaian kembali atau pembaharuan hukum yang sebelumnya sudah diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai. Peristiwa pembaharuan hukum ini terjadi di lembah Moab, dan disampaikan oleh Musa kepada orang Israel dalam bentuk Khotbah menjelang kematiannya.

Baca Juga:  Lantik Panji Yosua se-Wilayah Sonder, ini pesan Pnt GSVL

Bacaan Ulangan 1:9-18 dimana Musa sebagai pemimpin yang harus menyatakan kehendak Allah, memberitahukan ketetapan dan keputusan-keputusan Allah, serta menyelesaikan perkara-perkara umat Israel; tugasnya ini memang sangat berat, karena itu Musa mengakui ketidakmampuannya untuk mengurus bangsa Israel yang semakin banyak jumlahnya dengan permasalahan yang semakin kompleks sehingga Musa harus mengangkat pemimpin. Keadaan inilah yang menyebabkan diperlukannya hakim-hakim untuk membantu bagi Musa.

Bertambahnya keturunan dan semakin besar jumlahnya, diyakini sebagai wujud perjanjian Allah dengan umat-Nya. Ayat sebelumnya yaitu ayat 7-8 mendorong Israel untuk maju menduduki Kanaan yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka.

Perjanjian itu adalah berkat TUHAN dimana Ia tetap menjaga kesinambungan keturunan Israel dan memelihara perjanjian Allah yang menempatkan hukum TUHAN sebagai dasar kehidupan yang sejahtera, baik diantara saudara maupun dengan orang lain.

Selanjutnya Musa mengungkapkan keluhannya mengenai beratnya beban tugas yang dia lakukan dalam mengatur dan menghakimi bangsa Israel yang semakin besar jumlahnya maupun dalam hal berkat Allah sesuai dengan janji-Nya kepada mereka, (ayat 9-11). Keluhan ini seperti juga yang dikemukakan sebagai nasihat kepada Musa oleh Yitro mertuanya (Keluaran 18:17-19).

Bertambahnya jumlah orang Israel ternyata menjadi kesusahan dan pergumulan tersendiri bagi Musa, terutama menyangkut soal kepemimpinan. Memimpin bangsa yang sebesar itu seorang diri menjadi kesusahan dan beban bagi Musa, yang olehnya itu diperlukan bantuan dari orang lain untuk bersama bertanggungjawab atas kesusahan, beban dan perkara dari umat tersebut, (ayat 12).

Permintaan Musa kepada bangsa itu untuk mengutus orang-orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, artinya orang yang cakap dan pandai untuk diangkat menjadi kepala bagi masing-masing suku mereka. Dalam ayat selanjutnya menunjuk pada hirarkhi kepemimpinan yang terstruktur. Tugas yang diberikan Musa kepada para Kepala Suku ialah menangani segala perkara baik bagi orang Israel maupun bagi orang asing yang berada di tengah-tengah mereka, (ayat 13-14).

Baca Juga:  Silaturahmi dengan peserta KGM X PGI, Jokowi: Rugi kalau tidak nyoblos 17 April

Musa mengajukan syarat untuk menjadi pemimpin setiap suku-sukunya itu orang yang bijaksana dan berpengalaman untuk memutuskan dan menjalankan pengadilan yang benar dan Musa tidak memilih seseorang berdasarkan hubungan darah atau kera-bat.

Setiap kepala diberi tanggungjawab yang berbeda dari jumlah yang dipimpinnya yaitu kepala pasukan seribu, kepala pasukan seratus, kepala pasukan lima puluh dan kepala pasukan sepuluh namun tujuannya sama yaitu untuk memutuskan perkara-perkara di antara saudara-saudara mereka dengan adil, (ayat 15-16).

Juga setiap kepala pasukan tidak boleh memutuskan perkara dengan meman-dang muka dan jangan takut dan gentar mengadili mereka sebab pengadilan adalah kepunyaan Tuhan namun apabila ada perkara yang besar dan sukar dihadapkan kepada Musa, (ayat 17-18).

Makna dan Implikasi Firman

Para ahli psikologi sosial mengatakan bahwa kehidupan yang manusia jalani adalah sebuah masalah. Juga manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi antara satu dengan yang lain.

Bila hidup ini adalah sebuah masalah, berarti ada banyak perkara yang harus kita hadapi dalam hubungan dengan orang lain; baik masalah itu berdampak besar maupun kecil, namun semua harus dihadapi dan diselesaikan secara bersama, seperti halnya Yitro yang menasihatkan Musa untuk bersama-sama menyelesaikan perkara-perkara bangsa Israel, dengan melibatkan orang-orang yang dinilai bijaksana, berakal budi dan berpengalaman.

Akan tetapi, menyelesaikan perkara secara bersama, tidak boleh diartikan sebagai perilaku yang mencampuri urusan orang lain, melainkan sebuah panggilan untuk bersama-sama berempati dan menanggung beban dalam sebuah realitas kehidupan yang sedang dihadapi (Galatia 6:2).

Dalam realitas kehidupan seperti itulah, orang Kristen dipanggil untuk menyatakan bentuk hidup yang berbeda dari orang-orang lain. Salah satunya adalah cara orang Kristen memperlakukan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu hidup yang saling peduli, penuh kasih, sepenanggungan dalam mengatasi kesusahan, beban dan perkara orang lain ter-masuk saat-saat sulit dalam mengatasi Covid-19. Artinya berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Hal ini menge-sampingkan kecenderungan pementingan diri sendiri yang tidak peduli pada kesusahan orang lain.

Baca Juga:  Dalam sehari, Walikota GSVL resmikan 2 gereja: GMAHK Pandu dan GPdI Minanga

Sikap Yitro, bukan mencampuri urusan Musa dalam memimpin bangsa Israel, melainkan suatu gambaran dari orang yang peka terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Yitro adalah seorang yang responsif dan reaktif melihat suatu perkara bahkan kesusahan Musa. Hal ini dapat dijadikan cerminan kepedulian kita terhadap berbagai per-masalahan yang dihadapi oleh sesama anak bangsa dan dalam lingkungan jemaat.

Oleh karena itu, prinsip-prinsip hidup yang dibangun berhubungan dengan demokrasi dalam perspektif iman Kristen harus dilakukan dengan semangat saling menolong dan memperhatikan, termasuk di dalamnya upaya saling menanggung beban dan bersama-sama bertanggungjawab atas kesusahan dan perkara kehidupan, yang semuanya dilaksanakan untuk kemuliaan nama Tuhan (Roma 11:36).

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

1. Apa yang dapat kita pahami tentang tema bersama bertanggungjawab atas kesusahan, beban dan perkara menurut Ulangan 1:9-18?
2. Apa bentuk-bentuk kebersamaan yang dapat kita buat dalam rangka menanggung beban bersama?

3. Bagaimana mengimplementasikan (melaksanakan) peran kepemimpinan yang diteladankan Musa untuk panggilan pelayanan dan kehidupan kita sekarang ini?

POKOK-POKOK DOA:

– Semua orang agar memiliki kerinduan untuk mengemban tugas bersama dalam kebenaran dan keadilan berdasar-kan kehendak Allah.

– Setiap umat TUHAN akan mampu mengembangkan integritas yang baik dan berkenan kepada TUHAN, dan dapat bertumbuh dalam semangat pelayanan yang berjalan bersama (sin-hodos).

– Semua orang yang berbeban berat, agar dapat menang-gung perkara kehidupannya dengan tetap bergantung pada Tuhan.(*)