(Sebuah Kajian) Dampak sosial dan psikologis pandemi Covid-19 pada masyarakat Sulawesi Utara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Lidya Fiece Katuuk, Bs. Psy.*

WORLD Health Organization (WHO) pada beberapa bulan yang lalu telah menyatakan bahwa Pandemi Covid-19 adalah bencana yang menimpa seluruh dunia selanjutnya oleh World Health Organization melalui salah satudevisinya Central for disease control and prevention, menyatakan bahwa hal ini menjadi darurat bencana yang mendunia dan harus diperhatikan bersama. Virus ini sangat berjangkit dan dapat meluas apabila tidak diputus rantai penyebarannya.

Untuk itu pemerintah dan masyarakat hendaklah bekerjasama dalam mengupayakan agar virus ini dapat dikendalikan penyebarannya supaya tidak meluas dan mengakibatkan berbagai dampak sosial, ekonomi, pendidikan dan psikologis.

Penelitian-penelitian klinis telah dilakukan sehingga meminimalisir resiko yang harus dihadapi oleh pasien positif Covid-19. Namun penelitian psikologis dan sosial sangat jarang dilakukan sehingga menjadi kendala bagi ketersediaan referensi dalam efektivitas penanganan holistik terhadap pasien Covid-19 maupun dampak yang kemungkinan timbul dan disebabkan oleh Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Pandemi ini telah membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat dunia, dimana cara hidup lama harus ditinggalkan dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru.

Paling tidak pola hidup manusia dibatasi denganpenerapanprosedur tetap kesehatan sesuai standar WHO yaitu: rajin mencuci tangan, mengatur jarak fisik, menggunakan masker dan apabila di suatu tempat beresiko tinggi maka wajib ditambahkan alat pengaman lainnya seperti face shield atau pelindung wajah, hanskun/gloves/sarung tangan, hand sanitizer atau tissue basah.

Kerentanan seseorang terhadap ketahanan terhadap paparan virus ini tentunya berbeda-beda. Orang dengan kondisi tertentu seperti mempunyai penyakit kronis, gangguan imunitas dan usia lanjut serta balita dan anak-anak hendaklah menjadi perhatian bersama.

Penanganan penyakit yang diakibatkan oleh paparan Covid-19 ini sudah menjadi tantangan besar bagi dunia medis. Tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia. Begitu banyak metode yang dilakukan yang merupakan hasil riset biologis dan demikian juga riset-riset umum dan bebas mengenai penanganan dan juga pengobatan terhadap pasien-pasien.

Baca Juga:  JPAR ajak mama-mama Kecamatan Wanea paham protokol Covid-19

Hal ini tentu menjadi sangat spekulatif dimana semua pihak seolah-olah berlomba menghasilkan suatu obat dan metode pengobatan dan tidak jarang dari metode-metode tersebut menimbulkan percakapan yang alot di media-media sosial. Bahkan tidak sedikit yang kemudian mempergunakan momentum ini dengan menggelontorkan berita-berita hoax yang merisaukan.

Hal seperti itulah yang membuat tatanan hidup masyarakat menjadi sebuah ruang hidup yang penuh komplikatif, masyarakat dibingungkan dan semakin gelisah menghadapi kelangsungaan hidup. Terlihat di tengah guncangan pandemi yang mendunia ini kegelisahan dan ketidak percayaan pada yang seharusnya mengatur tatanan hidup manusia menjadi sebuah kebutuhan utama.

Pemerintah Indonesia telah membuat institusi khusus penanganan Covid-19 dengan sebutan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Namun berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020 tentang perubahan Gugus Tugas menjadi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi. Sudah barang tentu meninbulkan bermacam-macam opini publik.

Khususnya bagi Provinsi Sulawesi Utara, dimana pekerjaan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sudah berupaya maksimal, namun tekanan dan dorongan datangnya dari masyarakat luas yang menimbulkan konflik-konflik sosial yang berujung panjang. Semua diakhiri dengan meletakan pasal tertentu sesuai dengan Undang-Undang yang berlakubagi kejahatan yang ditimbulkan. Adapun perkara-perkara ringan lainnya hanya dikenakan sanksi ringan, denda dan hukuman sosial lainnya.

Proporsional penanganan pandemi ini secara menyeluruh bertahap dan berjenjang dilakukan oleh Kabupaten dan Kota se-Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten/kota memaksimalkan upaya penanganan pasien melalui rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta rujukan Covid-19. Aliran pasien dengan status PDP, Positif, Positif Akut menjadi tanggung jawab daerah.

Dalam kajian “Psychological Impact of Pandemic Covid-19 through Culture coexisting pathogen of socioecological issues” yang saya buat dalam beberapa bulan ini, menampakan fenomena mencengangkan dimana faktor sangat kuat adalah yang ditimbulkan oleh aktivitas politik berpengaruh besar pada keadaan kehidupan sosial masyarakatnya.

Baca Juga:  Cegah Covid-19, pintu masuk Kantor Bapelitbangda Manado dipasang bilik disinfektan

Dalam hal ini, keadaan sosial-psikologis masyarakat rentan pada kesenjangan dan konflik kepentingan. Ini adalah pekerjaan berat bagi kita semua, mengembalikan kembali kestabilan-keeratan hubungan antar manusia, membuat modeling terhadap komunitas dengan ketangguhan (seperti Kampung Tangguh Nusantara yang dicanangkan oleh POLRI-TNI), meningkatkan responsivitas manusia dalam norma dan aturan adat dan budayanya.

Pendekatan kultural adalah pendekatan yang diyakini efeltif dalam membantu realisasi kesehatan psikologis. Masyarakat yang sehat secara mental dan yang mampu menyeimbangkan kehidupan sosialnya adalah masyarakat yang sehat dan tangguh terhadap dampak yang ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19 yang sekarang ini kita sementara hadapi dan ketangguhan akan Pandemi-Pandemi serupa yang akan hadir dalam kehidupan manusia yang akan datang.

Untuk itu, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai luhur suatu bangsa, mengamalkan aturan dan peraturan yang ada, mematuhi imbauan pemerintah, memaknai kehidupan spiritualitas, mengembangkan potensi, memberdayakan sesama, menjaga kemurnian berpikir, melakukan tanggung-jawab sosial dengan baik, berempati terhadap kesulitan-kesulitan hidup dan berjuang untuk kehidupan yang layak dan merdeka adalah dambaan bagi setiap insan dunia.

Sumber:
°personal research
°lisan melalui diskusi dan percakapan sosial
°Wikipedia
°Pranala Luar/Dalam, tautan dan rubric

(*) Riwayat Pendidikan Penulis:
▪ SD GMIM Lembean
▪ SMPKatolik Yos Sudarso Masohi Maluku Tengah
▪ SMA Perguruan Advent Jakarta (The Jakarta Academy 01)
▪ Strata 1 Bidang Keilmuan Psikologi di Far Eastern University Sampaloc, The Philippines
▪ S2 Bidang Pastoral Konseling (Belum Selesai) di YPTK UKIT