Bitung, BERITASULUT.CO.ID – Walikota Bitung Ir Maurits Mantiri MM membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bitung Tahun 2024 di ruang sidang Kantor Walikota Bitung, Jumat (19/4/2024).

Walikota Maurits Mantiri memberikan saran dan tanggapan terkait perkembangan dan data penanganan Stunting di Kota Bitung saat ini.
Tidak hanya itu, Walikota Mantiri mengajak agar mengevaluasi terkait data dan metode yang ditetapkan dan diterapkan pada setiap Dinas maupun instansi terkait, yang berpedoman dan sudah diatur dalam Perpres nomor 72 tahun 2021.
Yaitu, mengatur strategi nasional percepatan penurunan stunting, penyelenggaraan percepatan penurunan stunting, koordinasi penyelenggaraan percepatan penurunan stunting, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, serta pendanaan.
“Saya berharap kepada seluruh dinas dan stakeholder terkait untuk melakukan proses monitoring evaluasi berjangka,” terangnya sembari menegaskan, Pemerintah Kota Bitung akan terus berupaya untuk menyelesaikan permasalahan stunting.
“Permasalahan stunting merupakan masalah prioritas dari tingkat pusat sampai daerah yang harus dituntaskan mengingat dampaknya yang sangat kompleks,” ujarnya.
Oleh karena itu lanjutnya, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TPPS beserta seluruh stakeholder harus bekerja cepat dan tepat dengan cara holistik, integratif dan berkualitas untuk penanganan stunting ini.
“Diharapkan segala upaya bersama ini dapat berjalan lancar, sehingga angka percepatan penanganan stunting semakin membaik dan anak-anak di setiap wilayah dapat tumbuh sehat dan berkembang pesat,” kunci Walikota Mantiri.
Apa Itu Stunting?
Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Selanjutnya menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
Apakah semua balita pendek itu pasti stunting? Perlu diketahui bahwa tidak semua balita pendek itu stunting, sehingga perlu dibedakan oleh dokter anak, tetapi anak yang stunting pasti pendek.
Dampak masalah stunting di Indonesia:
1. Dampak kesehatan: a). Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motoric. b). Gangguan metabolik pada saat dewasa → risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan lain sebagainya).
2. Dampak ekonomi: Berpotensi menimbulkan kerugian setiap tahunnya 2-3 % GDP.
Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya stunting, antara lain yaitu:
1. Asupan kalori yang tidak adekuat: Faktor sosio-ekonomi (kemiskinan), pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktik pemberian makan untuk bayi dan batita (kecukupan ASI), peranan protein hewani dalam MPASI, penelantaran, pengaruh budaya, ketersediaan bahan makanan setempat.
2. Kebutuhan yang meningkat: Penyakit jantung bawaan, alergi susu sapi, bayi berat badan lahir sangat rendah, kelainan metabolisme bawaan, infeksi kronik yang disebabkan kebersihan personal dan lingkungan yang buruk (diare kronis) dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (Tuberculosis / TBC, difteri, pertussis, dan campak).
(btg)


















