Mengenai manajemen konflik dalam malendong dan pentahelix, ia menyatakan bahwa kerendahan hati dan kemampuan mendengar lebih penting daripada berbicara.
“Jejak digital sangat penting karena bisa menjadi masalah di kemudian hari,” tambahnya.
Pada sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya tentang cara menerapkan konsep melendong dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap topik yang dibahas, serta berkomitmen untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan akademik maupun di lapangan.
Walikota Maurits Mantiri pun menjawab bahwa langkah pertama adalah mendirikan posko sebagai pusat pengendali.
“Posko ini memerlukan surat keputusan, dan jika bencana terjadi pada hari libur, keselamatan rakyat harus diutamakan. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan Dana Siap Bencana (DSB) yang bisa digunakan segera tanpa rapat formal,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa melendong, yaitu program yang melibatkan seluruh aspek pemerintahan dalam membantu saat bencana, sangat penting.
“Hal ini akan menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam gotong royong ketika terjadi bencana,” tutupnya.
Pada akhir acara, dilakukan penyerahan pin Dewan Hiperbarik kepada Walikota Maurits Mantiri sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam bidang penanggulangan bencana.
Sejumlah pejabat Pemkot Bitung ikut mendampingi Walikota Maurits Mantiri, antara lain Plt Asisten Pemerintah dan Kesra Albert Sergius SE, Kepala Dinas Sosial Leddy Ambat SSTP, Kepala Dinas Perdagangan Jackson Ruaw MSi, dan Kepala Bagian Pemerintahan Rio Valentino Karamoy SSTP MSi.
(BTG)



















