Pemain politik Indonesia bisa belajar dari sportivitas Asian Games

  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  

Keriaan efek sukses melangsungkan Asian Games masih belum pudar. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menciptakan suasana perpolitikan Indonesia yang lebih sehat dan sportif. Seandainya Erick Tohir bisa diminta untuk mengatur pertandingan olahraga antara Jokowi dan Prabowo serta pendukungnya, Pilpres 2019 bisa berlangsung lebih sehat dan bersih.

Oleh:
Endy Bayuni
(The Straits Times/The Jakarta Post)

Masih dalam keriaan usai kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018, semangat sportivitas yang secara luas ditunjukkan oleh para atlet di seluruh cabang pesta olah raga Asia tersebut dan masih terasa hingga kini sebaiknya diimplementasikan dalam perpolitikan Indonesia dan langkah para politisinya.

Menjelang pemilihan umum Indonesia pada bulan April 2019, sportivitas tampaknya sangatlah dibutuhkan di tengah indikasi kuat akan adanya persaingan yang berlangsung secara brutal, buruk, dan sangat memecah belah. Masih teringat jelas betapa buruknya suasana pemilu 2014, yang tak kunjung membaik hingga menjelang pemilihan gubernur Jakarta pada tahun 2017. Karena itulah, pemilu 2019 sepertinya terlalu mengerikan untuk sekadar dibayangkan.

Indonesia telah menyambut baik penggunaan media sosial sebagai kekuatan positif untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menyampaikan pendapat. Namun, berbagai kanal media sosial saat ini telah berubah secara harfiah menjadi mimbar untuk saling menyerang satu sama lain secara keji, mulai dari hoax dan berita palsu, hingga ujaran kebencian dan kekerasan.

Meskipun pemilihan umum tahun 2014 dan pemilihan kepala daerah di tahun-tahun berikutnya telah berlalu secara relatif damai, semuanya diiringi dengan kekerasan skala penuh. Tidak seorang pun, polisi atau militer, dapat menjamin 100 persen bahwa pemilu pada tahun depan akan berlangsung damai.

Salah satu cara untuk menghindari kemungkinan kekerasan dalam pemilu ialah dengan menanamkan nilai-nilai yang dapat ditemukan dalam kompetisi olahraga yang sebaiknya diikuti oleh para politisi dan pendukung garis keras mereka.

Mari meminta Erick Thohir, yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menyelenggarakan Asian Games 2018 dengan sukses di Jakarta dan Palembang, untuk melakukan pekerjaan tambahan dengan menyelenggarakan permainan skala nasional bagi para politisi, dalam skala yang jauh lebih kecil daripada Asian Games tetapi masih sangat penting untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan demokrasi Indonesia.

Erick sebaiknya mengatur perhelatan kompetisi bulu tangkis antara dua calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang, yakni kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo dan penantangnya Prabowo Subianto. Badminton, yang masih menjadi salah satu cabang olah raga populer Indonesia sejak dulu, tampaknya menjadi pilihan cabang olah raga yang tak perlu diragukan lagi. Cabang olah raga seperti pencak silat atau menunggang kuda mungkin akan memberi Prabowo terlalu banyak keuntungan.

Selain itu, pihak penyelenggara sebaiknya menghindari cabang olahraga yang terlalu mengandalkan kekuatan fisik. Para pendukung kedua kandidat tentu tidak ingin pasangan capres dan cawapres yang mereka jagokan justru babak belur sebelum pertandingan yang sesungguhnya pada tahun depan. Salah satu cabang olah raga yang sangat disarankan ialah pertandingan bulu tangkis ganda, dengan masing-masing kandidat presiden bertarung bersama dengan pasangan calon wakil presiden mereka, Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno. Pertandingan itu tampaknya akan berlangsung adil apabila usia mereka turut diperhitungkan.

Merupakan suatu fenomena yang menyenangkan ketika menyaksikan Jokowi dan Prabowo saling berpelukan di acara pencak silat pada pekan lalu. Berbagai video dan foto yang beredar luas di media sosial telah mengirimkan pesan yang kuat kepada publik bahwa terlepas dari persaingan mereka yang sangat intens dalam politik, keduanya dapat berinteraksi dengan baik dan ramah. Namun hal itu belumlah cukup. Para pendukungnya serta seluruh rakyat Indonesia harus menyaksikan mereka benar-benar menerapkan sportivitas dalam persaingan satu sama lain.

Erick juga dapat mengatur pertandingan sepak bola yang mengadu para pendukung kedua kandidat. Jenis olah raga beregu kompetitif lainnya juga dapat diselenggarakan, seperti bola basket dan bola voli (namun sebaiknya bukan jenis olah raga apapun dari cabang seni bela diri). Bagaimanapun juga, seluruh fasilitas baru untuk setiap cabang olahraga tersebut telah tersedia, sehingga akan menjadi sia-sia apabila tidak dimanfaatkan kembali.

Jokowi, Prabowo, dan para pendukungnya akan secara langsung mempelajari apa yang dilakukan oleh para atlet atau bahkan peraih medali yang berpartisipasi dalam Asian Games mengenai persaingan. Meskipun menang itu penting, bagi atlet individu, hal itu bukanlah hal yang paling penting. Sebaliknya, esensi sebuah kompetisi ialah untuk mengembangkan karakter.

Terdapat begitu banyak karakter positif yang dapat disaksikan dalam sebuah kompetisi olahraga. Salah satunya ialah bersaing dengan kompetitif, yang tak jauh dari upaya meraih kemenangan. Namun, ada cara dan etika tersendiri untuk menang dan kalah dalam suatu kompetisi. Di sinilah sportivitas dibutuhkan.

Para pendukung cenderung terlalu fokus kepada pemenang. Para pendukung akan menyebut mereka yang menang sebagai pahlawan dan menghujani mereka dengan hadiah. Mereka pantas mendapatkannya, tentu saja, karena telah terlebih dahulu meluangkan waktu berjam-jam untuk berlatih, mengasah keterampilan, taktik, dan strategi, serta menerapkan disiplin ketat pada diri mereka sendiri.

Namun, obsesi para pendukung dengan keberadaan sang pemenang seringkali membutakan siapa saja yang memberikan dukungan dari karakter-karakter penting lainnya yang terlihat di lapangan, seperti permainan yang adil, bermain dengan menghormati aturan permainan, mematuhi keputusan wasit, mengamati etika di dalam dan di luar lapangan, ketekunan, kerendahan hati, solidaritas, dan sikap respek kepada lawan.

Terdapat etika bagi siapa saja yang menang dan kalah dalam pertandingan olahraga. Pemenang tidak seharusnya menertawakan pihak yang kalah, meskipun pendukung mereka sering melakukannya. Pihak yang kalah juga diharapkan dapat menerima hasil pertandingan dan dengan gagah dengan mengucapkan selamat kepada sang pemenang. Demikian pula, persaingan olahraga antara Jokowi dan Prabowo, maupun di antara pendukung mereka, apabila Erick dapat menyelenggarakannya, tidak akan banyak meributkan tentang siapa yang akan menang atau kalah.

Namun, jauh lebih penting untuk menanamkan lebih banyak sportivitas dalam pertandingan olah raga antara keduanya, sama halnya dalam perpolitikan Indonesia. Apabila mereka tidak bisa menunjukkan permainan yang adil dan menjadi olahragawan yang baik, mereka mungkin tidak siap untuk ajang pemilihan umum tanggal 17 April 2019. Jika demikian, Indonesia mungkin dikutuk untuk menghadapi pemilu 2019 yang akan berlangsung panas dan sengit.(matamatapolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.