Naik tingkat, Manado 3 besar Kota Paling Toleran di Indonesia 2020

  • Bagikan
Walikota Manado GS Vicky Lumentut saat menerima penghargaan Indeks Kota Toleran 2020, Kamis (05/02/2021) siang.
Walikota Manado GS Vicky Lumentut saat menerima penghargaan Indeks Kota Toleran 2020, Kamis (05/02/2021) siang.

MANADO, BERITASULUT.co.id – Setara Institute memaparkan 10 kota yang paling toleran di Indonesia dalam Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2020. Salah satunya Kota Manado.

Kota pimpinan Walikota Dr GS Vicky Lumentut (GSVL) ini jika tahun sebelumnya berada di peringkat keempat, tahun 2020 naik satu tingkat dan berada di posisi ketiga dalam Laporan IKT, sebagaimana dirilis Setara Institute, Kamis (05/02/2021) hari ini.

Di peringkat pertama ada Kota Salatiga, peringkat kedua Kota Singkawang, sedangkan di bawah Kota Manado atau di peringkat keempat ada Kota Tomohon.

Walikota GSVL menerima penghargaan tersebut secara langsung dalam acara Penghargaan Indeks Kota Toleran 2020 siang tadi.

Berikut ini kota paling toleran tahun 2020:

1. Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah: Skor IKT 6,717
2. Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat: Skor IKT 6,450
3. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara: Skor IKT 6,200
4. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara: Skor IKT 6,183
5. Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur: Skor IKT 6,037
6. Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur: Skor IKT 6,033
7. Kota Ambon, Provinsi Maluku: Skor IKT 5,530
8. Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur: Skor IKT 5,530
9. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat: Skor IKT 5,530
10. Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat: Skor IKT 5,530

Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, laporan ini disusun berdasarkan monitoring yang dilakukan oleh pihaknya. Dalam proses ini, dia mengatakan ternyata terdapat fakta jika pelanggaran kebebasan beragama justru terjadi di kota besar.

“80 persen apa yang kita kategorikan sebagai pelanggaran beragama itu terjadi di daerah perkotaan,” kata Bonar dalam acara Penghargaan Indeks Kota Toleran 2020 yang digelar secara daring, dilansir dari voi.id.

Baca Juga:  Buruh pelabuhan senang terima bansos Covid-19 dari Walikota GSVL

Ia memaparkan, hal ini bisa terjadi karena adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Dua hal ini membuat sebuah kota dipaksa bertumbuh dengan cepat dari yang tadinya homogen menjadi heterogen.

Fenomena ini, sambungnya, tak dipungkiri mempengaruhi dinamika dan kompetisi tingkat politik lokal. Sehingga, pemerintah daerah banyak yang mulai berkomitmen membangun kebersamaan dan kemajemukan di wilayahnya masing-masing.(DONWU)

  • Bagikan