Sementara peserta lainnya memberikan masukan agar Komisi WKI Sinode GMIM harus mengevaluasi kegiatan ini, khususnya sistem penilaian.
“Kegiatan lomba Line Dance WKI GMIM ini supaya jadi bahan evaluasi ke depan, tidak bikin kacau dan bikin malu GMIM karena kepentingan sekelompok orang,” ujar sumber.
Ia juga mengkritik cara penilaian yang dianggapnya sudah menyimpang dengan apa yang disampaikan saat technical meeting mengenai kriteria-kriteria penilaian.
Kontroversi penilaian sejatinya sudah mulai nampak di hari pertama lomba 16 Mei 2024 malam. Hasil penilaian yang harusnya langsung diumumkan, harus molor beberapa jam. Kecurigaan peserta pun mulai nampak saat itu.
Alhasil, dengan adanya kontroversi ini membuat sejumlah WKI jemaat melayangkan protes kepada panitia lomba maupun kepada WKI Sinode GMIM.
Yang pada akhirnya, Kelompok Kerja (Pokja) Perlombaan memutuskan untuk membahas bersama masalah dan kontroversi yang muncul, dengan melakukan pertemuan yang akan dilaksanakan Kamis (30/5/2024) esok pagi bertempat di Ruang PJB Setda Kota Bitung.
Adapun yang diundang hadir antara lain Komisi WKI Sinode GMIM, Pokja Perlombaan, Tim Juri/IP Line Dance, dan Panitia Lomba.
“Kegiatan seperti ini adalah kegiatan gerejawi tujuan ada sukacita, tapi ini hanya jadi kekacauan yang bikin ‘bakalae’ antar jemaat,” tukas salah satu peserta dari Manado.
(bsc)















