Manado, BERITASULUT.CO.ID – Transformasi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) menuju pusat logistik global dinilai sangat bergantung pada penguatan kerja sama investasi dengan negara-negara utama Asia Timur, khususnya Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Hal ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub yang digelar di Aula GKN Manado, Senin (19/1/2026).
Pada kesempatan itu, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) menegaskan, posisi geografis Sulawesi Utara yang berhadapan langsung dengan Jepang, Korea, dan Tiongkok menjadikan kawasan ini sebagai gerbang paling strategis Indonesia Timur dalam rantai pasok global.
“Kerja sama investasi dengan Jepang, Korea, dan Tiongkok menjadi kunci utama percepatan transformasi Sulampua. Negara-negara ini adalah mitra dagang terbesar Indonesia sekaligus pusat industri dan logistik dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengembangan layanan direct call dari Pelabuhan Bitung ke Jepang, Korea, dan Tiongkok berpotensi memangkas waktu pengiriman dari 25–30 hari menjadi hanya 7 sampai 10 hari.
“Efisiensi tersebut dinilai mampu menekan biaya logistik hingga 20–30 persen serta meningkatkan daya saing produk ekspor kawasan timur,” katanya.
Kehadiran Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun dalam FGD tersebut juga mempertegas komitmen penguatan kerja sama Indonesia dan Tiongkok, khususnya di sektor logistik, perdagangan, dan investasi kawasan timur Indonesia.
Gubernur YSK menambahkan, Jepang dan Korea Selatan selama ini dikenal sebagai investor strategis di sektor manufaktur, perikanan, energi, dan industri pengolahan.
Dengan dukungan infrastruktur Pelabuhan Bitung dan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Sulawesi Utara diyakini siap menjadi simpul logistik yang menghubungkan sentra produksi Sulampua langsung ke pasar Asia Timur.
“Setiap rute direct call yang berkelanjutan akan menjadi sinyal kuat bagi investor Jepang, Korea, dan Tiongkok bahwa kawasan timur Indonesia siap bersaing dalam rantai pasok global,” tegasnya.
FGD ini diharapkan menghasilkan langkah konkret untuk mempercepat masuknya investasi asing ke kawasan Sulampua, memperkuat konektivitas perdagangan internasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia secara berkelanjutan.
Untuk diketahui, FGD tersebut dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun, Gubernur Gorontalo, Forkopimda Provinsi Sulawesi Utara, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Walikota Manado dan Walikota Bitung, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara, Erwin Situmorang, beserta jajaran,
Pimpinan Instansi Vertikal, para Pejabat Sipil, TNI/Polri, Pelaku Usaha, APINDO, Kadin, Investor dan Operator Logistik.
(DONWU)



















