Manado kini berusia 399 tahun, berikut sejarah nama Manado yang masih diperdebatkan

Bukan hanya orang Eropa yang memiliki banyak versi tentang nama Manado. Etnis dan sub etnis di Sulawesi Utara pun memiliki nama yang berbeda tentang Manado.

Manado dalam bahasa tua Tombulu disebut Manaror, sub etnis Tontemboan menyebutnya Manarow, etnis Sangihe menyebutnya Manaro.

Tak satu pun etnis dan sub etnis di Sulawesi Utara yang menyebut Manado mirip dengan apa yang didengar oleh Simao d’Abreu dan yang ditulis oleh Antonio Galvao, yaitu Manada.

Walaupun terdiri dari berbagai versi berbeda, tetapi yang pasti kata Manado adalah bahasa lokal di Sulawesi Utara yang hampir punah.

Nama Manado yang dikenal saat ini berasal dari kata Manarow atau Manadou (bahasa daerah Minahasa), yang artinya “dijauh”; suatu sebutan yang hampir sama dengan bahasa Sangihe, yaitu Manaro, yang artinya juga “dijauh” atau “negeri yang jauh”.

Kronologis terbentuknya Kota Manado

Tanggal 1 Juli 1919: dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester)

Tahun 1951: Gemeente Manado menjadikan bagian daerah Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 223 tanggal 3 Mei 1951.

Tanggal 7 April 1951: Terbentuklah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Periode 1951 -1953 sesuai Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14