Mekanisme lain yang mungkin adalah meningkatnya ekspresi reseptor enzim pengubah angiotensin 2, yang juga merupakan reseptor pengikat untuk virus Covid-19 (Brake et al., 2020).
Kebijakan pemberlakuan lockdown, ketidakpastian pendapatan keluarga, dan tindakan isolasi yang berkepanjangan meningkatkan tekanan psikologis pada masyarakat yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan kebiasaan merokok (Patwardhan, 2020).
Pada saat pandemi Covid-19 semua orang diminta untuk berdiam di rumah, akibatnya trend peningkatan merokok meningkat disertai dengan paparan asap rokok terhadap anak-anak dan ibu hamil meningkat pada rumah tangga yang ada anggota keluarganya yang merokok.
Upaya kampanye untuk berhenti merokok sangat mendesak untuk dilakukan. Kampanye dan edukasi oleh tenaga kesehatan sangat diperlukan sebagai upaya untuk berhenti merokok dan mencegah munculnya perokok baru.
Masyarakat perlu mengetahui bahwa meskipun pandemi adalah saat-saat yang menegangkan, merokok bukanlah solusi. Bimbingan yang tepat mengenai efek adiksi dari merokok harus diberikan, terutama pada masa pandemi Covid-19.
Ketersediaan layanan berhenti merokok dapat memberikan informasi tentang pencegahan perokok aktif dan pasif, mengatasi mekanisme gejala putus nikotin, langkah-langkah pencegahan kekambuhan dan kecenderungan untuk kembali merokok.
Memberikan motivasi agar dapat membiasakan hidup sehat yang meliputi cek kesehatan secara teratur, enyahkan asap rokok, rajin berolah raga, diet seimbang, istirahat yang cukup, kelola stres (CERDIK).







