Ketaatan mengikuti petunjuk Tuhan melalui tanda awan yang diam atau bergerak merupakan kemutlakkan bagi Israel dalam pengembaraan menuju tanah Kanaan.
Sebagai orang percaya, kita memahami bahwa kehadiran awan di tengah perjalanan Israel di padang gurun adalah tanda kehadiran Tuhan. Juga tanda dan bukti penyertaan-Nya dalam perjalanan bangsa Israel.
Ketika Tuhan menuntun Israel berputar melalui padang gurun menuju Laut Teberau, walaupun sebenarnya lewat negeri orang Filistin merupakan jalan paling dekat dengan tanah perjanjian.
Namun untuk berjaga-jaga, jangan-jangan Israel menyesal dan ingin kembali ke Mesir maka Tuhan memilih jalan ini. (Bnd. Kel 13:17 & 14:19, 20-24)
Kitab Bilangan 9:15-23, menjelaskan bahwa awan memberi tanda dan perintah kepada umat Israel apakah mereka berhenti atau melanjutkan perjalanan.
Perjalanan yang tidak menentu waktunya, mengajar dan melatih Israel tentang kesiapsiagaan, kedisipilinan, kesabaran dan ketaatan pada perintah Tuhan di segala waktu dan keadaan.
Kapanpun diperintahkan harus melanjutkan atau berhenti berjalan. Tidak memandang waktu, terkadang pada saat petang hari, malam hari, pagi hari, Israel harus bergerak berjalan maju atau berhenti.
Sekalipun Israel tidak tinggal menetap di suatu tempat karena perjalanan menuju tanah perjanjian mengharuskan mereka berpindah-pindah,namun mereka harus memelihara kewajiban-kewajibannya.
Ketika awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci artinya mereka akan lama tinggal dalam perkemahan.
Kewajiban-kewajiban sebagaimana dicatat dalam pasal sebelumnya, yaitu; merayakan paskah dan mempersembahkan korban-korban persembahan harus diaksanakan.















