Manado,BERITASULUT.CO.ID– Sekretariat dan Pimpinan serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara melaksanakan ibadah rutin ibadah Oikumene, di ruang paripurna, Senin (12/10/2026).
ibadah tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), Gbl. Tedius Batasina.M.Th.
Ibadah tersebut dihadiri Ketua DPRD dr.Fransiskus Andi Silangen, SpB.KBD, Wakil Ketua Royke Anter, SE.ME serta sejumlah anggota dewan seperti Royke Roring, Remly Kandoli, Paula Runtuwene (Lumentut), dan Pricilia Rondo.
Dalam khotbahnya yang diangkat dari pembacaan 1 Petrus 4:7-11, Gbl. Tedius Batasina, menekankan pentingnya menjaga kesadaran akan identitas dan relasi kekristenan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan jemaat agar tetap tenang, bijak dalam berkomunikasi, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang didengar sepintas.
“Jadilah tenang, saling memberi tumpangan, mengasihi, dan hidup yang disukai semua orang. Kadang kala saat memohon sesuatu kepada Tuhan, kita tidak mampu melihat realitas di sekitar kita,” ujar Tedius dalam khotbahnya.
Ia juga mengutip nasehat rasul Paulus dalam Efesus 4 serta pesan Yesus dalam Lukas 6:27-28 tentang kehidupan manusia baru. Menurutnya, kunci utama hidup kekristenan adalah kasih, termasuk keberanian untuk mengampuni, melepaskan kepahitan, dan berbuat baik kepada sesama.
Sementara itu Ketua DPRD Sulut dr. Fransiskus Andi Silangen, SpB.KBD dalam sambutanya, mengajak seluruh jemaat agar dalam ibadah untuk bersyukur atas kekuatan, kesehatan, dan urapan baru yang diberikan Tuhan.
Fransiskus menyinggung sejarah penyebutan istilah Kristen yang pertama kali muncul di Antiokhia sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 11:26.
Menurutnya, kata “Kristen” pada awalnya merupakan ejekan atau julukan bagi para pengikut Kristus, sebelum akhirnya dikenal sebagai identitas iman.
“Sungguh luar biasa, apalagi pikiran kita diperbarui. Perikop ini sangat menarik karena berkaitan dengan kehidupan orang Kristen. Ini mengingatkan kita semua bahwa sebutan Kristen pada awalnya merupakan sebuah julukan bagi para pengikut Kristus,” tutur Fransiskus.
Ia menambahkan bahwa kekristenan sejatinya bukan sekadar pengelompokan agama dalam definisi duniawi, melainkan sebuah relasi yang hidup antara manusia dan Tuhan.
“Kekristenan bukan sekadar agama, kekristenan adalah relasi. Relasi itu sempat rusak oleh karena dosa, tetapi melalui karya- pengorbananNya, hubungan yang terputus itu dipulihkan kembali,” pungkasnya.
Fransiscus, mengingatkan agar baik pimpinan Dewan, anggota ,sekretariat, ASN, Cleaning dan wartawan membangun relasi dan hubungan yang akrab dengan Tuhan Yesus, satu satunya penolong hidup.











