Melonguane, BERITASULUT.co.id – Awal tahun 2022 ini, kasus demam berdarah dengue (DBD) mengintai masyarakat di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Data didapat dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Talaud, untuk tahun 2021 lalu terjadi 94 kasus. Sedangkan di 2022, Januari hingga Februari sudah ada 48 kasus.
Atau kalau dihitung rata-rata, di 2021 setiap bulannya terjadi antara tujuh hingga delapan kasus DBD. Sedangkan di awal 2022, rata-rata 24 kasus perbulan dan bisa meningkat jika tidak ditanggulangi sejak dini. Sebab, perjalanan 2022 masih panjang.
“Untuk 2022, kasus DBD di Januari ada 26 kasus dan Februari 22 kasus. Dan dari dua bulan ini, ada satu kasus meninggal,” tutur Kepala Dinkes Kerry Monangin, Senin (14/03/2022).
Dikatakannya, DBD sejatinya disebabkan terpenuhinya tiga aspek. Yakni virus dengue, nyamuk aedes agypti sebagai vektor virus dan manusia sebagai tempat perkembangan virus.
“Kalau misalnya ada virus tapi tidak ada nyamuknya (vektor) maka tidak akan terjadi kasus DBD. Sebab penularannya harus melalui gigitan nyamuk Aedes Agypti, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.
Atas hal tersebut, Monangin mengimbau seluruh pihak, khususnya masyarakat; meski di masa pandemi Covid-19, untuk tetap memperhatikan potensi terjadinya kasus DBD.
“Terlebih di masa penghujan seperti saat ini, berkembangbiak nyamuk sangat cepat,” katanya.
Monangin juga mengingatkan untuk selalu melakukan tindakan antisipatif jentik nyamuk dengan 3M.
“Kita harus menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air dan mengubur barang bekas. Begitu juga jika terjadi gejala panas atau demam, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ungkapnya.
Intinya jangan panik tapi tetap waspada dan lakukan 3M sebagai langkah antisipatif jentik nyamuk.
(tal)



















