Ayat 18-21: Menunjuk pada pengalaman orang Israel di Gunung Sinai (Kel. 19:16-22, 20:18-21).
Allah sendiri melarang orang Israel untuk berjumpa langsung dengan-Nya. Mereka harus menjaga jarak aman agar tidak binasa.
Fenomena yang terjadi di gunung sinai, seperti: api yang menyala-nyala, bunyi sangkakala, kelaparan dan angin badai membuat orang Israel takut dan memohon supaya Allah jangan langsung berbicara kepada orang Israel. Karena jika Allah berbicara berhadapan langsung mereka pasti binasa (Kel. 20:18-21).
Ayat 22-24: Berbeda dengan suasana di Gunung Sion. Di sini orang Kristen diajak untuk datang ikut serta bergembira, bertemu dengan beribu-ribu malaikat.
Dan jemaat anak sulung, bertemu dengan Allah dan Yesus Kristus, pengantara perjanjian baru, yang mencurahkan darah-Nya sebagai korban penghapus dosa.
Kematian Yesus di salib merupakan Ibadah Korban-Nya sekali untuk selamanya, yang dengan itu Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar Agung.
Kematian Yesus di kayu salib disejajarkan dengan upaya perdamaian seperti yang digambarkan dalam Imamat 16.
Ayat 25-27: Ajakan kepada orang Kristen, agar dalam keadaan bagaimanapun, jangan menolak Allah yang telah berfirman dalam diri Yesus Kristus.
Sebab baik orang yang menolak maupun yang berpaling dari Firman Allah akan menghadap Allah.
















