Peringati 30 Tahun Peristiwa Kudatuli, PDI Perjuangan Sulut Ingatkan Berpolitik Harus Beradab

Manado, BERITASULUT.CO.ID-Peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) dilaksanakan  di DPC PDI Perjuangan Kota Manado, dengan mengenang, mengambil pelajaran, pemutaran film dokumenter, refleksi sejarah, serta penegasan komitmen menjaga demokrasi.

Peringatan perjuangan demokrasi dihadiri oleh Wakil Ketua DPD PDIP Sulut Steven Kandouw, Wakil Ketua DPD sekaligus Ketua DPRD Sulut dr. Fransiscus Silangen, Sp.B, KBD, Sekretaris DPD PDIP yang juga anggota DPRD Sulut, Reza Rumambi, SE, Bendahara DPD sekaligus Wali Kota Manado Andrei Angouw, Ketua DPC PDIP Kota Manado sekaligus Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard Sualang, serta Ketua DPRD Kota Manado Altje Dondokambey bersama jajaran Fraksi PDIP Sulut dan Kabupaten/Kota, serta jajaran petinggi partai, pengurus DPD, DPC, PAC, Ranting, Anak Ranting.

Dalam sambutan Wakil Ketua DPD PDIP Sulut Steven Kandouw menyampaikan bahwa dimana paling utama bagaimana terganggunya pemerintah orde baru dengan melesatnya ketokohan Megawati Soekarnoputri.

Katanya, pemerintah Soeharto waktu itu sudah merasakan bahwa ini bahaya. Ini harus cepat-cepat di amputasi.

“Segala macam cara di buat. Yang namanya Megawati waktu di Kongres itu tidak ada.  Waktu di kongres medan DPD dan DPC,pimpinan-pimpinan politik, turun tangan jadi siapa yang kira-kira boleh dibayar langsung dianggap sebagai utusan. Padahal PDI waktu itu utusannya harus di pilih. Suryadi saat itu bisa dibeli, dan kader-kader yang berbalik arah melawan Ibu Megawati akhirnya tercatat dalam sejarah. Ini jadi pelajaran berharga bagi kita untuk berpolitik secara beradab,” terang Steven Kandouw.

Ia pun mengingatkan pesan mendalam dari DPP PDI Perjuangan agar para kader tidak mengorbankan nilai-nilai demokrasi dan peradaban hanya demi melampiaskan hasrat berkuasa.


“30 tahun waktu yang cukup lama untuk menjadi perenungan kita bersama. Bangsa ini dinilai beradab dari bagaimana kita berdemokrasi. Jangan karena takut kehilangan jabatan, kita mereduksi ideologi kita. Bagi kita yang memangku jabatan di legislatif maupun eksekutif, jadikan peristiwa ini sebagai bahan kontemplasi,”ujarnya.

Kandouw pun menekankan pentingnya kewaspadaan kader, sebab sejarah dan ancaman terhadap legalitas partai bisa saja terulang di masa depan. Kunci utama untuk menghadapinya adalah dengan menjaga soliditas, saling membantu, dan merawat semangat gotong royong.

“Kenapa kita banteng, bukan gajah? Karena banteng adalah lambang kolektivitas. Makan sama-sama, susah sama-sama, senang sama-sama, dan kalau ada serangan, kita lawan sama-sama!. Masyarakat harus melihat bahwa kader-kader PDI Perjuangan selalu bergerak dalam semangat kebersamaan dan tidak berjalan sendiri-sendiri,”ucapnya.

Menurut Steven, Substansi dari peringatan Peristiwa Kudatuli adalah mengobarkan kembali semangat perjuangan para senior. Walaupun secara skenario politik saat itu gerakan sempat ditekan, namun secara de factoperjuangan rakyat dan Megawati berhasil meraih kemenangan, baik di tingkat nasional maupun di Sulawesi Utara.


“Politik itu tidak ada kata akhir. Kehadiran para pejuang 30 tahun lalu harus terus menjadi inspirasi kita untuk tetap maju, menjaga Republik, serta selalu menangis dan tertawa bersama rakyat,” tutup Steven.

Ia pun ingatkan  agar berpolitik itu harus secara beradab.

“Jangan kita tidak beradap berupaya memenangkan hasrat kita, keinginan kita, menghalalkan segala cara. Bangsa kita ini di nilai beradap di nilai dari cara kita berdemokrasi,”pungkasnya.

Hadir anggota DPRD Sulut, Berty Kapojos, Toni Supit, Jeane Laluyan, Irene Golda Pinontoan, Eldo Wongkar, Reza Waworuntu, Hi.Ruslan Abdul Gani. Juga anggota Fraksi PDIP Kota Manado, Lily Binti, SE, Jimmy Gosal, Franko Wangko, Keiko Pangemanan dan Andre Palit.

Diketahui, Acara peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli ini juga dimeriahkan dengan penampilan teatrikal serta atraksi dari kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang merefleksikan detik-detik perjuangan dan keteguhan kader PDI Perjuangan dalam mempertahankan markas dan ideologi partai pada tahun 1996 silam.

(IKA)