Jumat Agung, makna kasih Yesus kepada umat manusia lewat penyaliban

Perayaan Jumat Agung cukup berbeda dengan Rabu Abu, Minggu Palma, Kamis Putih maupun nanti Minggu Paskah. Karena peringatan sengsara dan wafat Yesus, suasana gereja diliputi keheningan dan nyaris tanpa riasan.

Umat tidak akan menemukan hiasan atau dekorasi berarti, bahkan kain penutup altar saja tidak ada. Salib-salib di gereja semua ditutup kain berwarna ungu.

Kemudian di tengah perayaan, terdapat upacara penghormatan salib. Ini diawali dengan pembukaan penutup kain pada salib, kemudian dilanjutkan dengan upacara penghormatan salib yakni umat mencium salib di mana Yesus bergantung.

Sebagaimana dilansir Katolisitas, ini sesuai dengan ajaran Tuhan yang ditulis dalam Surat Rasul Paulus pada umat di Korintus (1 Kor 2:2).

“Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain dari Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”

Salib di gereja Katolik menyertakan tubuh (corpus) Kristus yang disebut crucifix yang berarti, seseorang yang disalibkan. Bapa mengutus anak-Nya ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya. Salib merupakan puncak dari kasih Tuhan.

Sementara itu, penciuman salib jika diperhatikan adalah ungkapan ekspresi iman yang mendalam dan dari hati. Mencium salib Kristus merupakan ekspresi syukur dan kasih pada Yesus yang terlebih dahulu mengasihi umat-Nya.

(cnni)