Perikop 1 Korintus 1:18–2:5 muncul sebagai respons Paulus terhadap pengaruh budaya Korintus yang memuliakan hikmat manusia, serta sebagai koreksi terhadap jemaat yang mulai melenceng dari inti Injil.
Paulus ingin menegaskan bahwa kekuatan sejati ada dalam salib Kristus, dan bahwa iman Kristen harus berdiri di atas kuasa Allah, bukan daya tarik dunia.
Ayat 18: Frase “pemberitaan salib” (Yun- ho logos tou straurow) bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga mewakili seluruh inti Injil: bahwa Allah menyelamatkan melalui kematian Yesus yang memalukan.
Dunia melihatnya sebagai “kebodohan”, (Yun.mōria, yang berarti bodoh atau tidak masuk akal); tetapi bagi orang percaya, itu adalah “kekuatan Allah” (Yun-dynamis Theou).
“Dýnamis” di sini bukan sekadar tenaga, tetapi kuasa ilahi yang menyelamatkan, mengubah hidup, dan mengalahkan dosa serta kematian.
Paulus memakai istilah ini untuk menekankan bahwa kuasa Allah bekerja melalui salib, bukan melalui cara-cara yang tampak kuat menurut dunia.
Ayat 19-21: Kutipan dari Yesaya 29:14 pada ayat 19, menyatakan bahwa hikmat manusia akan gagal mengenal Allah.
Paulus menyebutkan suatu kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa dengan bersandar pada hikmat manusia, dunia tidak pernah menemukan Allah dan masih tetap buta dan meraba-raba mencari-Nya.
Pencarian itulah yang dirancang Allah untuk menunjukkan kepada manusia ketidakberdayaan mereka sendiri dan menyiapkan sebuah jalan menuju penerimaan akan Dia, yang adalah satu-satunya jalan yang benar
Ayat 22-25 Pada zaman Paulus, orang Yahudi menantikan Mesias yang penuh kuasa, yang akan datang dengan mujizat dan pembebasan politis seperti dalam peristiwa keluarnya orang Israel dari Mesir.
















