“Hikmat Allah” (Yun. Sophía Theou): Salib tidak bisa dijelaskan dengan logika duniawi. Tapi justru salib adalah pernyataan paling dalam dari karakter Allah: kasih, keadilan, dan kerendahan hati.
Ayat 1:26-31: Paulus mengutip Yeremia 9:23-24 (ayat 31): “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
Artinya, satu-satunya kebanggaan orang percaya adalah Kristus, bukan status, bukan prestasi, tapi karena Dia. Semua itu bukan karena kita baik, tapi karena kasih karunia Allah.
Pasal 2:1-5: Paulus, seorang yang sangat berpendidikan, justru memilih untuk memberitakan Injil dengan sederhana dan berpusat pada salib Kristus.
Ia tidak mengandalkan kata yang indah (TB Edisi 2: muluk) atau argumentasi yang memikat.
Mengapa? ”…supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Allah.” (ay.5) Inilah tujuan Paulus.
“Iman” (Yun. pistis) di sini berarti kepercayaan pribadi yang aktif kepada Allah, bukan sekedar pengakuan intelektual.
Paulus menjelaskan bahwa ia memberitakan Injil bukan dengan kehebatan retorika atau hikmat manusia, tetapi dengan kuasa Allah.
Ia tidak mau iman jemaat Korintus dibangun di atas daya tarik logika atau kehebatan manusia (pengkhotbah) atau system filsafat melainkan pada “kuasa Allah” (dynamis Theou).
Jadi “pistis” di sini menekankan kualitas yang bersandar secara mutlak kepada Allah. Dalam pemberitaan firman, Paulus menyadari bahwa hanya Roh Kudus yang bisa mengubah hati manusia bukan kepandaian manusia.
















