MTPJ GMIM 7-13 Maret 2021: Penderitaan sebagai konsekuensi kesetiaan Iman

  • Bagikan

Bacaan Alkitab:
Kisah Para Rasul 7:54-8:3

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Menjadi orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Allah dalam Yesus Kristus adalah hal yang membanggakan, tapi bukan berarti tanpa masalah. Hal ini harus diketahui dan diberi perhatian khusus oleh setiap orang Kristen karena ada yang berpikir bahwa menjadi orang Kristen yang menjauhi kejahatan berarti semua aman-aman dan tidak mungkin mengalami penderitaan sebab Tuhan menjaga dan melindungi.

Tetapi harus diingat bahwa ada penderitaan yang bukan diakibatkan karena melakukan apa yang jahat, melainkan justeru karena melakukan perbuatan baik dalam kesetiaan pada Tuhan. Misalnya karena melakukan kejujuran, keadilan, berani berbeda dengan orang lain karena iman, bahkan karena nama Yesus sehingga dimusuhi, diancam dan dianiaya.

Hal seperti ini dialami oleh Yesus yang menderita sampai mati disalib dan dalam sejarah gereja banyak dialami oleh orang Kristen bahkan hingga saat ini. Penderitaan seperti ini disebut sebagai penderitaan karena iman, itulah sebabnya menjadi orang percaya harus siap menderita karena iman kepada Yesus. Bukan karena mencuri, berdusta, mabuk, konsumsi obat terlarang atau karena perilaku seks bebas dan tindakan kejahatan lainnya.

PEMBAHASAN TEMATIS

Kitab Kisah Para Rasul yang ditulis sekitar tahun 62 Masehi oleh dokter Lukas, sahabat dan seperjalanan Paulus, dimaksudkan untuk meyakinkan Teofilus seorang bukan Yahudi yang bertobat menjadi Kristen, bahwa apa yang diajarkan kepadanya adalah sungguh benar (Lukas 1:4).

Lukas menulis untuk memberikan kepadanya banyak penge-tahuan tentang asal mula Kekristenan ketimbang yang sudah dimilikinya. Termasuk di dalamnya ialah kisah tentang kehi-dupan, kematian dan kebangkitan Yesus (“Injil”), serta pendirian dan perluasan gereja dari Yerusalem ke Roma melalui Samaria, Antiokhia, Asia dan Eropa; bagaimana injil yang dibuka dengan janji pemulihan kerajaan bagi orang Israel (1:32, 33) berakhir dengan gereja orang bukan Yahudi di Roma yang berbeda dengan Yudaisme, dan di dalam kisah ini diceriterakan tentang para rasul yang menyebarkan injil, salah satunya Stefanus.

Baca Juga:  Didoakan dalam ibadah, Jemaat GMIM Batak senang bisa bertemu Pnt JPAR

Setelah disergap oleh orang-orang yang iri kepadanya, Stefanus dibawa kehadapan Mahkamah Agama dengan hasutan menghujat Musa dan Allah, menghina tempat kudus dan hukum taurat (6:8-15).

Stefanus menyampaikan pem-belaannya dengan menceriterakan tentang Abraham, Ishak dan Yakub yang memperanakkan keduabelas bapa leluhur mereka. Bahwa Allah telah menyatakan diri melalui Abraham, bapa-bapa leluhur mereka dan kepada Musa, Yosua sampai zaman Daud, namun mereka berpaling pada dewa-dewa dan hokum Taurat tidak dituruti orang bayak (7:1-53).

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama (dewan tertinggi agama Yahudi) mendengar pembelaan Stefanus, sangat ter-tusuk hati mereka (=sakit hati), maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi (ekspresi menakut-nakuti, tanda marah).

Artinya mereka tidak menerima kesaksian Stefanus apalagi dikatakan bahwa mereka menolak hukum taurat. Hal ini tidak membuat Stefanus takut, apalagi lari dari kesaksiannya.

Tetapi ia (7:55-56) yang penuh dengan Roh Kudus, menatap kelangit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dalam Markus 14:62, Yesus berkata kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan. Di bagian ini Stefanus melihat dan mengatakan bahwa Yesus berdiri di sebelah Kanan. Para penafsir mengatakan bahwa Yesus berdiri untuk menyambut Stefanus sebagai martir pertama yang mengakui Yesus di hadapan manusia dan mempertahankan imannya.

Sebagai reaksi atas perkataan Stefanus mengenai Yesus, mereka berteriak-teriak, menutup telinga, menyerbu, menyeret dia keluar kota lalu melemparinya dengan batu. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

Sebagai tanda iman yang kokoh dan tidak takut men-derita, Stefanus berlutut, berdoa, menyerahkan rohnya dan mohon pengampunan dosa untuk orang yang melakukan-nya. Saulus juga setuju, Stefanus mati dibunuh. Stefanus dikuburkan oleh orang-orang saleh serta meratapinya.

Baca Juga:  Pimpin ibadah Paskah di Borgo Tanawangko, Pnt GSVL doakan pelajar SD-SMP yang ikut UN

Dan saat itu mulailah penganiayaan terhadap jemaat atau orang-orang beriman di Yerusalem, Yudea dan Samaria. Saulus berusaha membinasakan jemaat dari rumah kerumah dan menyeret laki-laki dan perempuan untuk dimasukkan kedalam penjara (7:57-8:3). Di sini Saulus sebelum menjadi Paulus, seorang yang bertobat, ia menjadi pribadi yang membawa penderitaan bagi orang lain.

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

Sejarah gereja telah menunjukkan bahwa sejak awal kekristenan, orang beriman dipakai oleh Tuhan dalam tuntunan Roh Kudus untuk menyaksikan bahwa kemuliaan Allah dalam Yesus Kristus telah berlangsung sejak Perjanjian Lama dan berlangsung terus dari zaman ke zaman. Dan Yesus Kristus adalah Allah yang hidup yang menyertai dan menyambut orang percaya yang setia pada imannya sekalipun menderita.

Kesaksian tentang siapa Yesus Kristus kepada dunia adalah tanda adanya iman yang hidup. Demikianlah orang beriman seperti yang dilakukan Stefanus. Dan ini harus dilakukan gereja Tuhan sekarang. Harus bersaksi kepada dunia melalui berbagai media seperti khotbah, katekisasi, penggembalaan, pekerjaan sehari-hari, keteladanan dan melalui medsos tentang siapa Yesus yang mengasihi dan menyelamatkan dunia.

Penderitaan merupakan salah satu konsekuensi yang dapat muncul karena kesetiaan dalam iman. Secara intern, bisa tidak disukai karena orang beriman pasti berlaku jujur, setia, loyal, berintegritas dan sekalipun ia berada dalam berbagai kesulitan tidak akan mempersalahkan orang lain, tidak akan mencuri, korupsi dan memutarbalikkan kebe-naran. Secara ekstern, dapat dimusuhi, dianiaya dan dibunuh oleh orang-orang yang berbeda ideologi dan kepercayaan dengan fanatisme sempit .

Perayaan Minggu sengsara adalah saat untuk mengingat, merenungkan dan menghayati makna penderitaan karena kesetiaan di dalam iman sebagaimana yang dijalani oleh Yesus Kristus dalam kesetiaan-Nya kepada Bapa di Sorga demi keselamatan manusia.

Baca Juga:  Hari Pemuda GMIM 5 April 2021: Yesus tidak menolong kita dengan simsalabim

Usaha tidak berhasil, hasil kebun dicuri, usaha ditipu, pangkat/esalon ditahan, upah tidak dibayar, teman meng-khianati, hantaman hoax, persekusi, sakit penyakit menye-rang, kepercayaan di tertawakan, dimusuhi dan diserang, dan lain-lain; semua ini dapat mengakibatkan penderitaan. Dalam penghayatan di minggu sengsara ini kita diajak untuk menghayati jalan sengsara dan penderitaan Kristus. Kita pasti dimampukan memikul penderitaan sebagai konsekuensi iman pada Yesus Kristus.

Jadilah kita sebagai orang-orang yang bertemu secara pribadi dengan Yesus sehingga kita tidak seperti Saulus sebelum ia bertobat, membawa penderitaan bagi orang lain.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

– Apa yang kita pahami berkaitan dengan tema “Penderitaan Sebagai Konsekuensi Kesetiaan Iman”, dihubungkan dengan iman, kesaksian, tindakan dan penderitaan Stefanus dalam perikop ini ?
– Apa dan bagaimana yang harus kita lakukan di minggu sengsara ini untuk membuktikan bahwa penderitaan adalah salah satu konkuensi karena kesetiaan iman ?

POKOK-POKOK DOA

– Orang-orang beriman yang mengalami penderitaan karena kesetiaan dalam iman.
– Yesus Kristus dalam Roh Kudus, terus hadir memberi kekuatan, penghiburan dan tuntunan bagi gereja-Nya menghadapi berbagai tantangan, masalah bahkan penganiayaan.
– Pertobatan bagi orang yang memusuhi dan menganiaya orang beriman.(*)

  • Bagikan