MTPJ GMIM 21-27 Maret 2021: Ayo siapa yang suka menyangkal, percaya diri berlebihan, dan mengandalkan kekuatan diri sendiri

  • Bagikan

Bacaan Alkitab: Matius 26:69-75

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia terkadang kehilangan kendali diri ketika terancam. Sumpah sering terucap untuk meyakinkan, mempertahankan kebenaran atau stempel pembenaran. Dalam keadaan terbuai, manusia mudah mengobral janji dengan maksud meraih sesuatu yang diinginkan.

Sumpah dan janji yang diungkapkan seseorang mencer-minkan integritas kepribadiannya. Kendati, kita mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, Juruselamat dan sebagai murid-Nya berjanji untuk hidup setia menuruti kehendak-Nya. Namun, pasang surut kehidupan membuat emosi dan integritas diri sering labil. Pikiran dan tindakan tidak jarang bertentangan dengan kata hati iman. Ketika terpojok, ter-ancam, terabaikan, tersingkirkan, dipermalukan dan disakiti membuat kita menderita.

Penderitaan, sering membuat manusia galau (pikiran kacau) dan kehilangan akal sehat, menyebabkan ucapan dan tindakan mengabaikan etika dan moral. Bahkan pada titik ekstrim, orang percaya dapat menyangkal iman kepada Yesus Kristus. Di minggu sengsara ke lima ini, kita diajak merenungkan tema: Jangan Menyangkal Yesus Kristus walaupun susah dan menderita.

PEMBAHASAN TEMATIS

Baik Injil Sinoptik maupun Injil Yohanes, semua mencatat kisah Petrus menyangkal Yesus Kristus sebelum ayam berkokok. Kisah ini signifikan bagi para penulis Injil, karena mereka menulis tidak semua apa yang dialami; dilihat, didengar dan dirasakan tentang kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus.

Tetapi secara selektif dipilih tentang apa yang membangun, memelihara, menguatkan dan meyakinkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menderita, mati di kayu salib, bangkit dari antara orang mati, naik ke surga dan menjadi Juruselamat dunia. Kisah tentang Petrus menarik dan penting karena Yesus Kristus mendirikan gereja-Nya (ekklesia) di atas batu karang/Kefas/Petrus dan kepadanya diberikan kunci Kerajaan Sorga. (Matius 16:16-19)

Ada beberapa hal penting dari kisah ini menjadi pelajaran untuk memahami firman ini:

Pertama: Ketika Yesus Kristus ditangkap, murid-Nya tercerai-berai melarikan diri, kecuali Simon Petrus dan murid yang lain (Yohanes 18:15). Mungkin Yohanes. Petrus mengikuti dari jauh dan duduk di antara pengawal-pengawal (58) atau duduk di tengah-tengah mereka sambil berdiam dekat api atau mengelilingi api. (Markus 14:54, Lukas 22:55)

Kedua: Penyebab mengapa Petrus menyangkal Yesus Kristus yaitu:

a.) Takut atau kuatir.

Takut atau kuatir adalah cermin manusia lemah dan berdosa. Sebab ketika manusia kuat dan tidak bersalah, apa yang perlu ditakutkan atau dikuatirkan? Menurut Injil Yohanes 18:26, hamba perempuan itu adalah saudaranya Malkhus, hamba imam besar yang dipotong telinganya oleh Petrus. Tidak ada yang salah dengan ungkapan hamba perempuan itu. Benar, Petrus adalah pengikut Yesus Kristus! Mengapa Petrus takut atau kuatir dan menyangkal-Nya? “Aku tidak mengenal orang itu” (Yesus Kristus) dengan bersumpah.

Baca Juga:  MTPJ GMIM 17-23 Oktober 2021: Pelsus terpilih harus merendahkan diri di bawah tangan Tuhan

Petrus yang terkenal pemberani, tetapi menghadapi tuduhan yang benar dari hamba perem-puan yang tidak berkuasa, menjadi pengecut. (72) Petrus takut ditangkap! Mungkin, takut dipersekusi (disakiti, dipersulit)! Padahal kita ingat jawab Petrus kepada Yesus Kristus “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (35);

b.) Terlalu percaya diri dan mengandalkan kekuatan diri.

Percaya diri (self-confidence) dan mengandalkan kekuatan diri sendiri (self-reliance) adalah hal positif untuk kemandirian. Tetapi jika berlebihan atau over self-confidence dan over self-reliance, maka menjadi negatif: menjadi angkuh, sombong dan egois.

Terlalu percaya diri dan mengandalkan diri membuat Petrus tidak mendengar bahkan menolak kata Yesus Kristus. Ketika Yesus Kristus mengajak Petrus berdoa dan berjaga-jaga, dia justru tertidur. Ketika Yesus Kristus mengingatkan bahwa imannya akan terguncang, dia mengatakan, “aku sekali-kali tidak!” (33) Bandingkan Lukas 22:33, Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!”

Ketiga: Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus Kristus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (75. Menangis dengan sedihnya adalah tanda penyesalan. Orang yang menyesal adalah orang yang memiliki kepercayaan diri atau iman. Ia tahu mana yang benar dan salah, yang baik dan jahat. Ia menyesal karena melakukan apa yang tidak benar dan tidak baik.

Petrus menyangkal Yesus Kristus! Yudas menghianati Yesus Kristus! Apa bedanya? Petrus menyesal, Yudas juga menyesal! (Matius.27:3) Bedanya, Yudas menggantung diri, sementara Petrus mengingat apa yang dikatakan Yesus Kristus, lalu menyesal dan berbalik atau bertobat.

Dan Injil Lukas menyaksikan bahwa iman Petrus tidak gugur dan bertobat karena doa Yesus Kristus. Lukas 22:31-32 , Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Baca Juga:  MTPJ GMIM 30 Agustus - 5 September 2020: Bersama bertanggungjawab atas kesusahan, beban dan perkara

Keempat: Petrus adalah pemimpin para murid Yesus. Dialah yang pertama mengakui bahwa,” Yesus Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Dia terkenal pemberani, mengandalkan kekuatan fisik dan sangat percaya diri. Namun, ia juga yang berani menolak perkataan Yesus Kristus; “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. (31) Petrus menjawabnya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”(33). Matius.16:23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Kelima: Setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Injil Yohanes 21 menjelaskan bahwa Petrus dan murid yang lain, pergi menangkap ikan. Kata Simon Petrus, “Aku pergi menangkap ikan”, murid yang lain menjawab,” Kami pergi juga dengan engkau” (3). Artinya mereka tidak lagi pergi menjala manusia. Tapi, kembali ke profesi yang lama.

Hal yang menarik dari kesaksian Injil Yohanes, Yesus Kristus telah menunggu di tepi danau Tiberias. Menyiapkan dan menyajikan sarapan bagi mereka. Perintah Yesus Kristus agar menebarkan jala di sebelah kanan, didengar dan dilaksanakan, menghasilkan mujizat.

Setelah sarapan, Yesus Kristus bertanya sampai tiga kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus Kristus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Para komentator (penafsir) Alkitab mengait-kan pertanyaan Yesus Kristus dan jawaban Petrus sampai tiga kali dengan penyangkalan Petrus sampai tiga kali sebelum ayam berkokok. “Maka sedih hati Petrus”, karena teringat tiga kali ia menyangkal Guru-Nya.

Sebelum ditangkap, Yesus Kristus tahu bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Dia berdoa agar iman Petrus tidak gugur, insaf dan menguatkan iman saudara-saudaranya. (Lukas 22:31-32) Setelah kebangkitan, Yesus Kristus merekonfirmasi penugasan dan panggilan-Nya agar Petrus menggembalakan domba-domba-Nya, dan mengikut-Nya kembali. “Ikutlah Aku.”(Yoh.21:19). Ini adalah panggilan yang kedua.

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

Mengikuti Yesus dari jauh, duduk bersama dan merasakan kehangatan bersama orang jahat dapat membuat orang percaya menyangkal, menolak perkataan dan menjadi batu sandungan bagi Yesus Kristus. Sebab bergaul dengan orang jahat bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Baca Juga:  MTPJ GMIM 29 Agustus - 4 September 2021: Regenerasi kepemimpinan dalam pelayanan

Paulus mengingatkan kita, Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1Korintus 15:33) Pengamsal mengatakan ,”siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.(Amsal 13:20)

Percaya diri berlebihan (over self-confidence) dan meng-andalkan diri berlebihan (over self-reliance) membuat Petrus menjadi angkuh, sombong, keras kepala, keras hati dan egois. Pada gilirannya ketika menghadapi ancaman dari orang yang merancangkan kejahatan, dia menjadi penakut, pengecut dan menyangkal iman kepada Yesus Kristus.

Yudas menyesali perbuatannya lalu menggantung diri. Tetapi Petrus menyesal mengingat perkataan Yesus Kristus ketika ayam berkokok dan ketika Yesus memandangnya. Petrus menangis dengan sedih, menyesali dosanya dan insaf. Lukas 22:60-61: “Saat itu juga, selagi Petrus masih berbicara, berkokoklah ayam jantan. Lalu, berpalinglah Yesus dan memandang Petrus. Dan, Petrus teringat akan perkataan Yesus.” Mengingat dan melakukan perkataan Yesus Kristus adalah kekuatan menghadapi ancaman dari kuasa dan kekuatan Iblis, si jahat, agar tidak mudah menyangkal-Nya.

Ketika bertemu Yesus, setelah kebangkitan, di tepi danau Tiberias, penugasan dan panggilan untuk meng-gembalakan dan mengikuti-Nya dikonfirmasi kembali. Pertemuan kembali dengan Yesus Kristus setelah kebangkitan itu, memulihkan Petrus; dia dipenuhi Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:8), menjadi rendah hati, dengar-dengaran, berani (Kisah Para Rasul 4:13) dan mengandalkan perintah Yesus Kristus dalam hidup dan pelayanannya. Kita pun harus merendahkan diri terhadap Tuhan Yesus dan kepada sesama manusia.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

– Apa yang saudara pahami sehubungan dengan tema: “Jangan Menyangkal Yesus Kristus menurut bacaan Injil Matius 26:69-75?
– Apa saja yang perlu dipikirkan dan dilakukan agar terhindar dari mengandalkan kekuatan diri yang membuat manusia menjadi angkuh, sombong, egois, tidak mau mendengarkan orang lain dan firman Tuhan?
– Bagaimana cara hidup: berpikir, berperilaku, kultur atau kebiasaan yang harus dikembangkan dan dipertahankan agar iman kita tidak mudah gugur?

POKOK-POKOK DOA:

– Supaya iman kita kepada Yesus Kristus tidak gugur
– Keangkuhan, kesombongan, keakuan, tidak mau mendengar orang lain dan firman Tuhan adalah titik kelemahan manusia dan orang percaya. Mohon pertolongan-Nya agar dapat mengendalikan diri sehingga terhindar dari perilaku angkuh dan sombong.(*)

  • Bagikan