AAI Sulut sebut Museum Holocaust di Minahasa layak jadi obyek wisata budaya, ini alasannya

  • Bagikan
Museum Holocaust yang berdiri di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.(foto: ist). Inzet: Franky Mocodompis.

Manado, BERITASULUT.co.id – Beberapa hari terakhir ini timbul polemik dan kontroversi atas pembangunan Museum Holocaust Shaar Hashamayim Synagogue di Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).

Adalah penilaian Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto Abdul Hakim, yang meminta agar pembangunan Museum Holocaust agar dihentikan karena dianggap melukai segenap masyarakat Palestina.

Kemudian pernyataan Anggota DPR/MPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid yang mengaitkan pendirian Museum Holocaust erat dengan penjarahan dan penjajahan Israel terhadap Palestina yang dianggap bertentangan dengan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

Penilaian dan pendapat tersebut justru mendapat reaksi beragam dari komponen masyarakat Sulut. Salah satunya datang dari Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Pengurus Daerah Sulut.

Wakil Sekretaris AAI Pengda Sulut Franky Mocodompis menjelaskan konten yang ditampilkan dalam Museum Holocaust di Tondano identik dengan keluhuran nilai budaya masyarakat Minahasa.

“Sebagai etnis terbesar di Provinsi Sulawesi Utara, Minahasa terkenal dengan nilai budaya kegotong-royongan yang disebut Mapalus. Dalam stratifikasi sosial orang Minahasa juga tidak mengenal sistem pemerintahan seperti kerajaan. Yang ada hanyalah pemimpin Mapalus yang disebut Meweteng,” ujarnya di Kantor Walikota Manado, Kamis (10/02/2022) siang.

Baca Juga:  Toleransi Manado terawat, Kecamatan Wenang daulat GSVL sebagai “Bapak Kerukunan”
  • Bagikan