AAI Sulut sebut Museum Holocaust di Minahasa layak jadi obyek wisata budaya, ini alasannya

  • Bagikan
Museum Holocaust yang berdiri di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.(foto: ist). Inzet: Franky Mocodompis.

Mocodompis menegaskan, dalam bermapalus di Minahasa, sikap saling menghargai, saling member perhatian, dan kesetaraan, merupakan nilai yang dominan.

Kemudian senantiasa berlaku sopan terhadap orang, tersenyum, dan mengajak singgah sebentar untuk baku pasiar, telah menjadi indikator nilai budaya orang Minahasa menganggap kesetaraan sebagai hakikat dan eksistensi utama kemanusiaan.

“Pesan serupa ini jugalah yang ditampilkan pada Museum Holocaust di Tondano,” ujar kandidat kuat Ketua AAI Pengda Sulut ini.

Menurut Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusa (Himaju) Antropologi FISIP Unsrat Tahun 1995-1996 ini, kehadiran Museum Holocaust itu tidak ada kaitannya dengan urusan diplomasi antar negara.

“Pihak pengelola sudah berulangkali menjelaskan, tujuan utama dari pembangunan Museum Holocaust di Tondano justru untuk membangun edukasi terhadap bahaya rasisme dan kebencian, dan itu identik dengan nilai budaya masyarakat Minahasa,” ujar Mocodompis.

“Justru kami di Sulawesi Utara mempertanyakan movifasi di balik wacana pembongkaran Museum Holocaust oleh tokoh MUI dan PKS. Kalau di negara lain Museum Holocaust-nya dibongkar itu kebijakan negara masing-masing, dan saya yakin di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia telah tumbuh menjadi Negara Pancasila yang menghargai kemajemukan,” tegas aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ini.

Baca Juga:  Keras! Ini pesan Ferry Liando kepada 5 kepala daerah yang baru dilantik
  • Bagikan