Dan karena komitmen tersebut memberi semangat kepada Paulus dan idenya untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat di Yerusalem (ay. 5).
Contoh jemaat-jemaat di Makedonia ini dipakai Paulus untuk membangun kembali semangat jemaat di Korintus melanjutkan komitmen memberi yang sudah mereka mulai.
Kunjungan Titus ke jemaat di Korintus adalah juga untuk memenuhi agenda tersebut (ay. 6).
Paulus memotivasi jemaat di Korintus dengan menunjukkan kekayaan iman mereka dalam perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu dalam kasih sebagai alasan untuk menjadi kaya juga dalam pelayanan kasih bagi jemaat di Yerusalem (ay. 7).
Hal ini dilakukan Paulus bukan sebagai tindakan memerintah, melainkan menunjukkan ketulusan kasih dan komitmen mereka sebagai kesempatan bagi jemaat untuk melakukan pelayanan kasih, sebagaimana jemaat-jemaat di Makedonia (ay. 8).
Paulus kemudian tidak berhenti pada jemaat-jemaat di Makedonia sebagai contoh sekaligus standar dalam memberi.
Paulus mengarahkan jemaat kepada standar tertinggi dalam memberi dengan menunjuk pada Yesus Kristus sendiri (ay. 9).
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus telah membuat orang percaya menerima kekayaan keselamatan melalui kesediaanNya mengalami kemiskinan dan lewat pengorbanan-Nya (bnd. Filipi 2:5-11).
Hal ini dipakai Paulus untuk menyadarkan jemaat bahwa pemberian mereka kepada jemaat di Yerusalem tidak sebanding dengan besamya kekayaan keselamatan yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus Kristus.















