Perikop bacaan ini diawali dengan pujian kepada Allah sumber rahmat dan keselamatan yang telah berkarya melalui Tuhan Yesus Kristus yang mereka imani bahwa hanya oleh anugerah Allah maka keselamatan itu dapat mereka miliki. Itulah yang dimaksud dengan suatu bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu (1:3-4). Konsep keselamatan inilah yang menjadi pijakan iman Kristen.
Melalui iman kepada Yesus Kristus, Allah telah memilih suatu umat untuk menikmati keselamatan di zaman akhir (1:5). Maka dari itu penulis menasihati jemaat untuk tetap bergembira (Yun: agalliao; Ingg: rejoice) sekalipun harus menjalani kenyataan hidup yang penuh dukacita dan pencobaan (1:6).
Sebab sesungguhnya dibalik peristiwa derita yang dialami dalam kesementaraan waktu (seketika lamanya) telah tersedia sukacita yang mulia dan keselamatan jiwa yang merupakan warisan kekal yang tersimpan di sorga bagi setiap orang yang mampu bertahan menghadapi berbagai macam pencobaan.
Adapun tujuan dari semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian iman atau dengan kata lain supaya iman menjadi teguh dalam kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan (1:7). Segala penderitaan, dukacita dan pencobaan adalah alat uji yang ampuh terhadap kemurnian iman.
Dalam ayat 7 ini terdapat komparasi antara iman dan emas, dimana kepercayaan kepada Allah (iman) lebih berharga daripada emas yang fana dan layaknya seperti emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api demikianlah iman diuji dengan api pemurnian sebagai proses yang Tuhan lakukan untuk menguduskan dan menyelamatkan umat pilihan-Nya sehingga memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari penghakiman itu tiba.

















