Jadi ujian bagi iman ibarat seperti api bagi emas untuk mengetahui kemurniannya. Sebab iman yang teruji akan sanggup menembus batas logika dimana tetap mengasihi dan percaya dalam kesetiaan walaupun belum pernah bertemu dan melihat sosok yang dikasihi dan yang dipercayai itu (1:8). Keyakinan seperti inilah yang membawa setiap orang percaya untuk mencapai tujuan imannya yaitu keselamatan jiwa (1:9).
Dengan demikian penulis hendak mengatakan bahwa letak kegembiraan orang beriman ada pada meyakini Yesus Kristus, sosok yang dikasihi dan yang dipercayai sebagai penyelamat dan pemelihara jiwa.
Kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang telah melewati penderitaan dan yang dimuliakan, menjadi berita Keselamatan yang telah disaksikan oleh para nabi sebagai penyataan Allah oleh kerja Roh Kudus. Uraian dalam ayat 10-12 merupakan pernyataan pendukung yang dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan bahwa Yesus adalah Kristus (Ibr: Mesias) sebagai penggenapan nubuatan para nabi yang kini semua karya penggenapan-Nya telah menjadi berita Injil.
Maka sesungguhnya penulis sementara mengajarkan kepada jemaat Kristen masa itu untuk percaya dan mengakui Yesus sebagai Kristus seperti yang dinubuatkan oleh para nabi dan yang telah digenapi di dalam diri-Nya.
Selain itu juga secara implisit terkandung ajaran bahwa penderitaan Kristus dalam ketaatan-Nya menjadi contoh nyata bagaimana bertahan di tengah penganiayaan dan kemuliaan Kristus yang menyusul sesudah itu adalah upah dari ketaatan yang juga dianugerahkan bagi orang yang setia bertahan dalam iman untuk menantikan hidup yang kekal bersama Dia.

















