MTPJ GMIM 18-24 April 2021: Menderita karena kebenaran

Makna dan Implikasi Firman

Iman yang murni dan sejati akan tetap bertahan di tengah penganiayaan dan penderitaan. Kehadiran gereja sebagai persekutuan yang terus dibaharui dan yang membaharui diri adalah bukti karya Roh Kristus yang menuntun dan memampukan gereja-Nya melewati proses pemurnian dalam kesetiaan menunaikan tugas panggilan untuk bersekutu (Koinonia), bersaksi (Marturia) dan melayani (Diakonia).

Karya keselamatan yang melewati penderitaan, penghinaan, penyaliban dan kematian telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dalam ketaatan sehingga mencapai kemuliaan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Hal ini menjadi berita Injil sekaligus teladan konkrit untuk senantiasa disiarkan dan diikuti dengan penuh ketaatan.

Sebab penderitaan Kristus di kayu salib telah menyediakan kehidupan baru selamalamanya bagi orang yang beriman kepada-Nya. Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut menjadi sumber pengharapan setiap orang percaya bahwa kebangkitan dan kehidupan kekal jauh melebihi apapun juga.

Percayalah bahwa Kristus yang bangkit dan hidup senantiasa menyertai dan menguatkan umat-Nya dalam pengharapan iman untuk tetap tabah dan setia sampai pewujudan kemuliaan sorgawi dinyatakan kepada setiap orang yang tekun dan beriman.

Penderitaan di dunia adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dengan berbagai keadaannya. Namun yang perlu digaris-bawahi ialah bahwa penderitaan harus dilihat dari sudut pandang iman yakni untuk memurnikan bukan untuk menjatuhkan.

Penderitaan karena kebenaran dalam Tuhan jauh lebih baik dari pada penderitaan akibat dari kejahatan karena ada kemuliaan yang menyusul sesudah itu (bnd. 1 Petrus. 1:11 & 3:17).