Paulus banyak mengalami pergumulan, ia harus keluar masuk penjara tanpa diadili, didera, hampir tak mampu menjalani kehidupannya. Ia hampir mati dalam beberapa kali perjalanan penginjilan, diancam penyamun, kedinginan, tanpa pakaian, menahan lapar dan haus.
Semua itu dialami karena ia ingin memelihara semua jemaat tanpa terkecuali (ay. 22-28). Paulus turut merasakan pergumulan jemaat, bila ada yang lemah, ia juga lemah. Jika ada yang tersandung, ia juga tersandung (ay. 29).
Akhirnya, ia katakan “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (σθέ ν ε ι α Astheneia: kekurangan, kelemahan) artinya dalam kelemahan sebagai seorang rasul, Paulus menikmati kasih karunia Allah, ia sadar bahwa Tuhanlah yang patut ditinggikan dan dimuliakan.
Paulus jujur, ia tidak berdusta dalam hal ini dan Tuhan mengetahui isi hatinya. Ia mengalami sendiri bagaimana Tuhan menyelamatkan hidupnya dari kejaran orang-orang suruhan raja Aretes di kota Damsyik. (ay. 30-33).
Makna dan Implikasi Firman
Integritas dan komitmen sejati dari seorang pelayan Tuhan di awal tahun pelayanan 2022-2026 ini akan nampak melalui sikap hidup, antara lain:
1. Seorang pelayan Tuhan hendaknya melayani dengan tulus, tidak mencari keuntungan diri sendiri baik itu secara finansial (keuangan), kesempatan untuk meraih kedudukan dan kehormatan di lingkungan keluarga, di tempat kerja serta dalam pergaulan sehari-hari.
Menjadi pelayan Tuhan bukan sebagai “batu loncatan” sehingga akhirnya mengabaikan orang-orang yang ada di sekitarnya karena ingin menang sendiri.















