2. Seorang pelayan Tuhan hanya mau mengasihi jemaat dengan segenap hati lewat mendedikasikan hidupnya untuk memelihara, memperhatikan jemaat dengan mengajarkan mereka ajaran Firman Kebenaran yang bersumber dari Alkitab, karena ia sendiri juga mempraktekkan Firman itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran yang benar haruslah juga diikuti dengan perilaku yang sesuai dengan apa yang ia sampaikan, kalau mengatakan “kasihilah sesama”, maka ia juga tentunya akan mengasihi sesama, bukan malah membenci orang tua, kakak, adik atau saudaranya.
3. Seorang pelayan Tuhan hanya “membanggakan” Tuhan yang bekerja di dalam hidupnya. Integritas dan komitmennya akan nampak ketika ia mampu bertahan dalam berbagai tekanan/penderitaan dalam melakukan pelayanannya.
Pergumulan, tantangan bahkan penderitaan dalam pelayanan adalah suatu proses untuk membentuk pribadi pelayan Tuhan menjadi kuat dan yang selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
4. Seorang pelayan Tuhan harus senantiasa berkomitmen bahwa apa yang ia kerjakan bukan hanya untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Tuhan, seperti yang ditulis dalam Kolose 3:23: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”
5. Seorang pelayan Tuhan akan menampakkan juga perbuatan baiknya kepada orang lain yang ada di sekitarnya tanpa memandang latar belakang, agama, suku, status sosial dan lainnya sebagainya.
Sebagaimana “Hari Kasih Sayang” atau “Valentine Day” hendaknya diisi dengan ungkapan dan perbuatan kasih yang sesungguhnya, seperti beribadah, menyatakan kasih kepada orangtua, sanak saudara bukan untuk melakukan hal-hal yang tidak etis, seperti seks bebas, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.















