Kenikmatan dan kesenangan hidup dilihat sebagai hasil usaha sendiri, untuk itu ia berkata: “hatiku bersukacita karena jerih-payahku. Itulah buah jerih-payahku” (2:1-10).
Namun tentang hal ini, sampailah penulis pada sebuah pengakuan bahwa; segala sesuatu dalam hidup manusia ada waktunya menurut pemberian Tuhan tanpa ditambahkan atau dikurangi oleh manusia dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya (3:6-12).
Kitab Pengkhotbah sebenarnya bukan bermaksud untuk mengajarkan bahwa hidup, bekerja, belajar dan kekayaan adalah sia-sia.
Tetapi Pengkhobah hendak mengajak manusia untuk merenung secara kritis arti dan tujuan hidup serta menimbang semua aspek kehidupan mengenai sikap dan tingkah laku yang baik.
Bagi Pengkhobah, Tuhan Allah yang telah memungkinkan umat-Nya menikmati kesukacitaan, kesenangan dan memberkati setiap jerih payah sehingga mereka beruntung.
Sesungguhnya tidak ada yang sia-sia bagi Allah. Oleh karena itu Pengkhotbah mengajak umat menikmati hidup pemberian Allah, sambil terus ingat untuk tunduk dan takut kepada Allah.
Karena hanya Allah tahu segala sesuatu dan hanya Dialah yang tidak sia-sia.
Pengkhotbah 4:17-5:6; hendak mengutarakan tentang manusia religius dalam hubungannya dengan Tuhan.
“Takutlah akan Allah” mengadung arti religius dan moral; yang mendatangkan rasa kagum, hormat dan segan serta memiliki rasa percaya diri untuk berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar perkataan-Nya.
“Berjalan ke rumah Allah” adalah suatu usaha aktif yang dilakukan dengan tujuan menemui dan mendekati Allah di tempat di mana Dia berada untuk berkomunikasi dalam sebuah kegiatan kultus.















