Beberapa contoh alat ukur dalam Alkitab: Gera dan Syikal (Kel. 30:13), Dirham dan Mina atau kati (Neh. 7:70,71) dan Talenta (2 Sam. 12:30).
Pengajaran Yesus Kristus kemudian berpindah dengan memakai perumpamaan: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? (ay.39).
Dalam konteks penghakiman, maka hal ini berarti bahwa bagaimana mungkin orang yang bersalah (berdosa) menjadi hakim dan menjatuhkan keputusan bersalah kepada orang yang melakukan kesalahan?
Bukankah pada akhirnya mereka akan jatuh dalam kesalahan? Karena yang semestinya menjadi hakim hanyalah Dia yang tidak bersalah.
Sehingga Ia menjatuhkan hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan dan keputusan-Nya adalah adil.
Dan keputusan-Nya bukan untuk membinasakan tetapi menyelamatkan. Hukuman-Nya supaya manusia menyadari dan mengakui kesalahan agar bertobat.
Yesus Kristus membuat perumpamaan tentang guru dan murid (ay.40). Yesus Kristus bermaksud untuk mengatakan bahwa memang seorang murid tidak melebihi gurunya.
Tetapi ketika murid tersebut sudah tamat pendidikannya, maka ia sudah setara dengan gurunya dalam hal pengetahuan.
Akan tetapi murid perlu ada usaha untuk terus belajar sambil mencontohi apa yang yang baik dari sang guru dalam semua hal.
Supaya ketika ia berhasil, ia tidak akan sombong bahkan menyepelehkan gurunya dan orang lain. Apalagi menghina mereka yang tidak berhasil.















