Seorang guru yang baik akan menjadi pola anutan bagi murid-muridnya. Ia akan bertanggung-jawab untuk mengajar mereka supaya kelak murid-muridnya bisa sukses di kemudian hari.
Pengajaran Yesus Kristus berikutnya dalam ayat 41-42,” Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bahkan dipertegas lagi dengan ungkapan: “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Selumbar (Yun. karfos artinya tangkai kecil, serpihan jerami yang kecil) dan balok (Yun. dokos artinya potongan kayu besar) mempunyai makna bahwa kesalahan kecil yang diperbuat orang dikritik, tetapi kesalahan besar yang diperbuat sendiri tidak diketahui, disadari dan tidak mau diakui.
Itu adalah sifat orang yang hanya mau menang sendiri. Hal ini menekankan bahwa seringkali manusia hanya melihat kesalahan orang lain tanpa melihat, bercermin dirinya sendiri, sehingga dengan mudahnya menghakimi orang lain.
Yesus Kristus dengan keras menegur sekaligus memberikan pengajaran kepada para murid-Nya untuk melihat kekurangan diri sendiri, memperbaikinya kemudian baru memperbaiki sikap dan perilaku orang lain.
Jangan langsung menghakimi, mengatakan mereka berbuat dosa dan kesalahan, padahal diri sendiri mungkin lebih buruk atau berdosa dari orang lain.
Yesus Kristus hendak menegaskan bahwa manusia tidak berhak untuk saling menghakimi satu terhadap yang lain, sebab semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa.
Apalagi mereka yang memiliki otoritas dan kekuasaan menghakimi atas dasar iri hati, cemburu, merasa tersaingi dan lain sebagainya.
Hukuman dosa adalah maut, tetapi karya Tuhan Allah dalam Yesus Kristus membuat manusia kembali memperoleh kesempatan atau peluang keselamatan dan kehidupan kekal















