MTPJ GMIM 25 Desember 2023 (Hari Natal I) : Raja yang Lahir di Palungan

Pembacaan Alkitab: Lukas 2:1-7

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan,

Puji Tuhan, kita diperkenankan lagi merayakan Natal Yesus Kristus. Sebuah perayaan yang “mendunia” dan menyerap perhatian banyak orang.

Natal dipandang sebagai “hari besar” yang menjadi ciri khas atau keunikan yang tak terpisahkan dari umat Kristen.

Tetapi juga pada saat yang sama, Natal diakui telah menjadi fenomena sosial yang “mewarnai” interaksi antar manusia dari berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda, termasuk perbedaan agama. Sedikit atau banyak, Natal telah menjadi “milik semua”.

Nuansa Natal tidak hanya semarak di ruang-ruang gereja, tapi juga dalam ruang-ruang instansi, negeri dan swasta.

Gemanya terdengar dalam ruang-ruang publik. Nyanyiannya dikenal dunia. Apalagi lagu “O, Holly Night”.

Bukan nanti Tanggal 25 Desember, bahkan sejak memasuki Bulan September, yang dianggap sudah memasuki bulan yang akhiran bunyinya “ber ber”.

Sebagian orang telah mengumandangkan lagu-lagu Natal di rumah, di kendaraan, termasuk untuk didengar sendiri melalui HP atau gadjet.

Jadi mengapa Natal dirayakan dan memberi pengaruh yang luas? Oleh karena Natal mengandung berita yang besar.

Yakni ketika “seorang raja” dilahirkan di sebuah kandang, dalam sebuah palungan. Bukankah seorang raja harus dilahirkan di istana atau di rumah bersalin yang terbilang “wah”?

Pokoknya tempat yang paling istimewa waktu itu? Namun itulah proses kedatangan sang anak untuk menggenapi nubuat para nabi.