Tempat yang sangat bersahaja untuk berbaring bagi sang Bayi mungil di malam lahir-Nya. Tempat yang ditentukan Tuhan Allah menjadi tempat termulia bagi datangnya Raja Damai.
Jemaat yang kekasih dan diberkati Tuhan,
Judul khotbah kita adalah: Raja Yang Lahir di Palungan. Kata palungan dari kata Yunani “Phatne” “Phatne” yang menunjuk pada tempat makanan ternak.
Orang Ibrani biasa memakai tempat ini bukan untuk manusia apalagi bayi, karena kotor dan berbau.
Tapi ini penting karena menjadi sumber kehidupan yaitu tempat menaruh makanan. Seperti manusia, maka palungan adalah alat makan, sumber seseorang mendapatkan kehidupan dan kesehatan.
Sehingga secara teologis, ketika Yesus Kristus lahir di palungan, maka palungan menjadi tempat dimana semua orang diundang untuk datang menikmati kehidupan yang disediakan oleh Yesus Kristus bagi semua orang yang mau menjawab panggilan Tuhan melayani dalam kehidupan bergereja maupun dalam pelayanan sekuler, yaitu sosial politik dalam masyarakat.
Natal adalah peristiwa kedatangan Sang Raja kehidupan melalui kesederhanaan tiada tara.
Kelahiran Yesus Kristus di kandang menyatakan konsistensi Tuhan Allah dalam keberpihakan-Nya kepada manusia.
Manusia yang sejatinya merupakan “Imago Dei” atau yang segambar dan serupa dengan Tuhan Allah, telah jatuh dalam dosa dan pemberontakan.
Tetapi karena kasih-Nya yang ajaib dan luar biasa berkenan mengangkat kita dari kubangan dosa.
Ia betul-betul mengosongkan diri-Nya agar dapat meraih kita kembali dari tempat yang “paling bawah”.

















