Sebaliknya, ayat 13 menggambarkan “kebodohan” sebagai perempuan “cerewet” (Ibrani: hamah) dan “tidak berpengalaman” (Ibrani: peti), bahkan “tidak tahu malu.”
Kata-kata ini tidak hanya menunjukkan kurangnya pengetahuan, tetapi juga kebodohan moral dan spiritual yang mendalam, ketidakmampuan untuk membedakan yang baik dan jahat, keengganan belajar dan kemalasan.
2. Kontras Antara Kebenaran dan Kepalsuan (ayat 2-5, 14-17)
Amsal 9:2-5 menggambarkan bahwa hikmat telah “memotong ternak sembelihan” dan “mencampur anggurnya,” menyiratkan persiapan yang matang dan teliti.
Kebenaran yang ditawarkan hikmat adalah sesuatu yang berharga dan melambangkan berkat-berkat yang melimpah.
Hikmat juga mengutus pelayan-pelayan untuk mengundang orang-orang, artinya kebenaran harus dibagikan secara aktif.
Sebaliknya, Kebodohan hanya “menawarkan makanan,” tanpa detail lebih lanjut, menunjukkan bahwa apa yang ditawarkannya adalah sesuatu yang dangkal dan tidak membawa kesejahteraan.
Hanya kata-kata manis yang menjanjikan kenikmatan dan kepuasan semu.
3. Bijak Memilih: Hikmat atau Kebodohan?
Kata “memanggil/berseru-seru” (Ibrani:qara’) digunakan sebagai ajakan hikmat (ayat 3) maupun kebodohan (ayat 15). Namun, ada perbedaan mencolok dalam substansi panggilan mereka.
















