Hal ini menunjukkan bahwa seorang penilik atau pemimpin jemaat harus memiliki tingkah laku yang baik dalam rangka membangun dan menjaga relasi dengan orang lain.
Bagian kedua, ayat 8-13, rasul Paulus memberikan perhatian pada jabatan diaken. Diaken dalam bahasa Yunani adalah diakonos yang memilki arti para pelayan jemaat. Mereka bertugas melayani jemaat dan mengurus segala kebutuhannya. Para Diaken haruslah orang-orang yang bertanggungjawab dan berpengalaman.
Syarat untuk menjadi Diaken antara lain tidak bercabang lidah atau tidak mengatakan hal yang kurang baik kepada orang lain, tidak serakah atau mengejar keuntungan dengan jalan yang tidak benar; dapat memelihara rahasia iman (ayat 9), dan tak bercacat.
Bagi istri harus memiliki tingkah laku yang baik seperti, orang terhormat, tidak pemfitnah, dapat menahan diri dan dapat dipercaya dalam segala hal. Istri dapat menunjuk kepada perempuan yang adalah istri dari pemimpin jemaat.
Paulus kembali mengulangi syarat bagi seorang laki-laki yang akan dipilih menjadi Diaken, yakni tak bercela dan suami yang baik serta dapat mengurus anak-anaknya.
Syarat yang menjadi standar moralitas bagi seorang Penilik jemaat dan Diaken sebagaimana yang diuraikan pada bagian Alkitab ini tujuannya agar pelayanan dan kesaksian tentang Kristus dapat dikerjakan dengan leluasa dan tidak terhambat oleh sesuatu apapun terlebih dari kepribadian seorang pemimpin.
















