Ayat 21-23. “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.” Ancaman, oposisi (penentang), tekanan, penghianatan, penganiayaan, dibenci dan kesengsaraan akan selalu berpotensi dihadapi dan dialami domba-Nya (pemberita Injil). Baik datangnya dari luar, maupun dari dalam.
Dari luar jelas. Tantangan dari dalam adalah keluarga; istri, anak, saudara, sahabat, kerabat, sesama murid Yesus Kristus dan seterusnya. Yesus Kristus memberi jaminan, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”
Orang percaya harus bertahan dan bertekun dalam iman ketika menghadapi dan mengalami kesengsaraan karena hal itu bagi Rasul Paulus adalah batu loncatan penyucian dan pengudusan diri untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (Kis. 14:22; 22).
“…larilah ke kota yang lain…”, artinya waspadalah, bijaksanalah, pandai-pandailah, bertahanlah, hindarilah, bersembunyilah, carilah pertolongan ketika menghadapi gemuruh badai ancaman yang hebat.
Namun tetap dengan tulus dan setia berkomitmen pada kebenaran dengan tanpa penghianatan dan menghalalkan segala cara, adalah berita pengharapan.
“Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Sebelum pemberitaan Injil dan penganiayaan berakhir, Anak manusia sudang datang membebaskan dan memyelamatkan.
Adalah berita pemeliharaan, penjagaan dan pembebasan. Dapat juga dimengerti sebagai, dalam tantangan selalu ada peluang mengubah dunia, membawa manusia bertobat dan diselamatkan.
Ayat 24-33. Pengikut atau murid Yesus Kristus tidak akan melebihi Sang Guru. Yesus Kristus adalah Kepala Gereja karena itu anggota jemaat-Nya harus meneladani, mencontohi dan hidup menurut ajaran-Nya.
Seperti Yesus Kristus tidak takut menghadapi penentang-Nya, penuh hikmat menjawab penentang-Nya dan rela menerima penderitaan dan penganiayaan demi tercapainya Misi Bapa yang diemban-Nya, maka orang percaya jangan takut dan meninggalkan pemberitaan Injil demi hidup di zona nyaman.















