Adrey Laikun, sebuah catatan ringan dari sebuah percakapan

Saya dan Adrey sama-sama tinggal di wilayah Utara Kota Manado. Sebuah kawasan yang jika mundur 45 tahun ke belakang, akan segera tersuguh kenangan pemandangan jalan aspal “halua” yang permukaannya tak begitu rata membuat mobil berbola tiga seperti bemo atau becak meluncur terhuyung-huyung, bendi apalagi.

Pada dini hari akan terdengar bunyi gluduk saat roda sapi melintas membawa aneka jualan dari para petani desa Buha, Bengkol dan Pandu menuju pasar Tuminting dan pasar Jengki.

Di pesisir-pesisirnya selalu melabuh perahu-perahu milik penduduk kawasan pulau di antaranya dari Manado Tua, Bunaken dan Siladen, bahkan armada dari kawasan terutara Sangihe Talaud.

Di masa lampau itu, bangunan rumah orang kaya atau pejabat tinggi pemerintahan dan militer serta pertokoan milik pedagang Cina di tepi jalan masih menampilkan citra arsitektur dari era penjajahan Belanda yang menonjolkan pilar dan sudut cekung.

Selebihnya, rumah-rumah penduduk pribumi dibangun dari ramuan kayu dan bambu anyam sebagai dinding dan beratap daun rumbia atau bobo.

Pada malam hari, di perkampung pesisir dari kawasan Sindulang hingga Tumumpa dan Bailang, rumah-rumah diterangi lampu gas Petromax yang dinyalakan sejak pukul 18.30 dan umumnya dipadamkan pada pukul 21.00.

Sinar yang tersisa setelah itu, tinggal nyala lampu-lampu minyak tanah Padamara yang biasa dibuat dari botol atau kaleng susu cap Nona.

Kota Manado waktu itu tak semodern yang nampak di tahun 2022. Ruas jalan utama Manado Utara yang dulu tempat Bemo melintas, kini terbenam 3 sampai 5 meter di bawah permukaan jalan saat ini.

Selain menjadi kawasan yang memiliki beberapa titik langganan banjir –terutama di area Tuminting–, yang menarik dikenang ketika itu, bentuk tiang listrik masih besi berongga yang agak pipih dihiasi lubang-lubang lonjong yang sering menjadi tempat panjat anak-anak.