“Kebaikan Tuhan” bukanlah alasan umat untuk bermalas-malasan dan hidup seenaknya, tetapi menjadi motivasi supaya terus berusaha dengan keras sehingga umat tetap layak menerima kebaikan dan kasih-Nya.
Ayat 4-5: Petrus menghibur umat-Nya yang sedang diejek dan dicerca sebagai buangan (orang pendatang, 1:1) oleh sesama mereka dengan melihat pada pribadi Yesus Kristus yang ditolak tapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah.
Yesus Kristus sebagai batu yang hidup diperhadapkan dengan dua sisi berbeda yaitu, dibuang oleh manusia namun di sisi lain Ia dipilih dan dihormati di hadirat Tuhan Allah.
Petrus menonjolkan Yesus Kristus dan bukan dirinya dalam pembangunan suatu rumah rohani, Gereja.
(band.Ef. 2:19-22) Gereja dilihat memiliki kemuliaan yang melampaui kemuliaan Bait Allah orang Yahudi.
Imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
Bagi orang percaya, pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib merupakan pintu pembuka jalan ke tempat yang Maha Kudus dan sebagai kurban yang mengantikan kurban-kurban umat Yahudi.
Ayat 6-8: Petrus mengutip Yesaya 28:16, yang menekankan fungsi dari batu sebagai dasar yang kokoh (band. 1 Kor. 3:11).
Petrus juga menggunakan Mazmur 118:22, 23, ketika menjawab Sanhedrin, “inilah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri” (Kis. 4:11).
Bagi yang percaya Yesus Kristus mahal, tetapi bagi yang tidak percaya menjadi batu sandungan. Untuk itu mereka juga telah disediakan karena ketidaktaatan kepada Firman Allah.















