Tak ada yang bisa memisahkan orang Kristen Yahudi dan non Yahudi; bersunat atau tidak, karena secara rohani, kematian dan kebangkitan-Nya telah mendamaikan kita dengan sesama dan dengan Bapa (Ef. 2: 11;13-16).
Kitab Perjanjian Baru menyaksikan seperti apa penerimaan dan penolakan umat terhadap Yesus Kristus.
Peristiwa Ia dilahirkan disambut sukacita, syukur para Majus dari Timur dengan persembahan emas, kemenyan dan mur.
Namun bersamaan dengan itu, ketika Raja Herodes mendengar berita ini, ia merencanakan pembunuhan pada semua bayi yang baru dilahirkan.
Nyatalah bahwa dari semula Yesus sudah menjadi batu sentuhan dan sandungan bagi orang tak percaya, tapi menjadi batu penjuru bagi yang beriman.
Sebagai Batu Penjuru yang hidup Yesus Kristus telah menjadi dasar pembangunan iman umat yang bergumul dan berbeban.
Dari segala jenis batu-batuan yang sifatnya benda mati hanya Yesus Kristus satu-satunya menjadi batu hidup di mana gelar itu pula disematkan kepada orang percaya yang adalah gereja-Nya (1 Petrus 2:5).
Sebagaimana batu penjuru sering dibuang oleh para tukang bangunan, itupun tergambar pada Yesus Kristus yang sering ditolak dan disingkirkan namun tetap ditinggikan serta dimuliakan oleh Bapa di sorga.
Batu yang sering dibuang dianggap tidak berguna, telah menjadi batu penjuru yang adalah sumber kehidupan bagi orang percaya.
Dia adalah batu yang mahal dan orang beriman tidak akan pernah dipermalukan oleh karena batu yang hidup itu (1 Ptr. 2: 6).















