“Semua pegawai raia serta penduduk daerah-daerah keraiaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup.”
Ratu Ester, walaupun sejak awal memikat hati sang raja, namun enggan memanfaatkan keseganan sang raja untuk melanggar hukum yang berlaku.
Sebab peraturan itu iuga berlaku bagi Ester sekalipun adalah ratu bangsa itu. Ia tidak bisa menghadap raja tanpa diundang, sekalipun selama 30 hari ini sang ratu belum dipanggil menghadap raja (ayat 11c).
Mordekhai menanggapi penolakan ratu Ester seperti tertulis di ayat 13-14:
“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
Pernyataan Mordekhai ini menunjukkan betapa hatinya gusar, dan itu disebabkan karena ancaman yang sangat besar dan pasti, yang tidak hanya menimpa semua orang Yahudi, tetapi iuga akan menimpa dia dan ratu Ester sendiri.
Karena itu Mordekhai menekan sang ratu Ester supaya cepat berpikir dan bertindak.
Sebab jika ratu Ester tidak mau mengambil resiko bagi yang lain, maka itu sama artinya dengan membahayakan dirinya sendiri.
















