Sehingga ketetapan dan peraturan-Nya menjadi pedoman yang mengatur semua aktifitas kerja, menjaga pandangan mata dalam pergaulan, menuntun kehidupan dalam rumah (keluarga), bahkan melekat sebagai identitas diri.
Perintah ini pada perkembangannya dipraktikkan secara harafiah oleh keturunan bangsa Israel.
Dibuatlah kotak-kotak kulit yang kecil (Ibr. Tefillim), bagian dalamnya berisi tulisan beberapa ayat Torah, lalu diikat di tangan kiri, juga di dahi.
Kotak-kotak ini disebut “tali sembahyang” yang dikritik Tuhan Yesus Kristus saat mengecam motivasi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23:5).
Petunjuk pada ayat 7-9 secara implisit menyatakan pengajaran berulang-ulang itu dilakukan tidak hanya dengan kata, melainkan praktik hidup.
Generasi yang lebih tua wajib meneladankan cara hidup menyembah dan mengasihi Tuhan Allah, agar generasi berikutnya berpegang teguh pada ketetapan dan perintah-Nya dan mewariskannya turun temurun.
Makna dan Implikasi Firman
1. Tuhan Allah yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan pusat penyembahan dan sumber pengajaran iman orang percaya.
Pengakuan ini diimplementasikan melalui tindakan mengasihi, menaati dan mengajarkan perintah-Nya berulang-ulang.
Mengajarkan berulang adalah bagian dari misi gereja untuk memperlengkapi warganya.
















