Pemimpin muda itu kemudian mengklaim bahwa ia telah mengikuti semua perintah Tuhan Allah.
Ia tahu hukum-hukum agama dan peduli terhadap hidup keagamaannya. “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku,” katanya. Ternyata semua itu belum cukup.
Yesus Kristus menyatakan “Masih tinggal satu hal lagi yang masih kurang padamu: jualah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga; kemudian, datang dan ikutlah Aku.” (ayat 22).
Perkataan Yesus, “tinggal satu hal lagi” (eti en soi leipei), menunjuk pada kerajaan Allah; keselamatan dan kehidupan kekal yang hanya ada pada Yesus Kristus. Itulah harta di sorga.
Memiliki Yesus Kristus, memiliki segalanya. Ketika orang kaya itu sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus dan menerima keselamatan yang ditawarkan-Nya dengan cuma-cuma.
Ajakan Yesus, “datang dan ikutlah Aku“ (Kai deuro akohouthei moi) mempunyai arti yang bersifat khusus: Mari ikut dan taat kepada-Ku.
Ajakan Yesus Kristus ini menjadi tantangan bagi pemimpin muda tersebut karena ia sangat mencintai kekayaannya.
Pemuda itu “menjadi amat sedih” (ayat 23) ketika mendengar perkataan Yesus Kristus.
Muncul konflik antara cinta terhadap harta duniawi dan keinginannya untuk mengikuti Yesus Kristus. Akhirnya, ia memilih kekayaan dari pada mengikuti Yesus Kristus.
Berangkat dari cerita ini, Yesus Kristus menyimpulkan, sukarlah bagi orang yang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah (lih. ayat 24).
















