Ayat 2. Tuhan Allah memang mendengar sebagai Yang Mahatahu, ucapan yang paling lembut dan paling rahasia serta paling keras; tetapi, iman memenuhi tugasnya untuk memohon kepada Tuhan Allah agar mendengarnya, sehingga Dia yang mendengar dengan sifat-Nya sendiri dapat berkenan mendengar melalui doa orang yang berdoa.
Ayat 3. Kata “Mengingat-ingat” (Ibr. Tishmor) dari akar kata Ibr. Shamar, yang berarti “menjaga,” “memelihara,” “mengawasi,” atau “mencatat.”
Hal itu membuat pemazmur mengungkapkan, “Siapakah dapat bertahan?” Ini adalah pengakuan bahwa semua manusia bersalah di hadapan Tuhan Allah dan tidak dapat dibenarkan oleh usaha sendiri. Tidak ada perbuatan yang dapat membuat manusia layak di hadapan-Nya.
Ayat 4. Karena itu ayat 4 menyatakan bahwa manusia membutuhkan pengampunan. Kebutuhan akan kasih karunia, yang hanya ditemukan dalam Tuhan Allah.
Pengampunan adalah anugerah murni dari Tuhan Allah, bukan karena jasa manusia, dan bertujuan untuk membawa manusia kepada kekaguman serta ketaatan kepada Tuhan Allah saja.
Ayat 5. “Aku menanti-nantikan” (Ibr. Qivviti), berasal dari akar kata Ibr. Qavah, yang berarti “menunggu,” “menanti dengan harap,” atau “berharap.
Namun kata “Qivviti” mencerminkan sikap rohani yang aktif dan penuh iman, bukan sekadar menunggu pasif, tetapi menanti dengan keyakinan bahwa Tuhan Allah akan bertindak.
Sedangkan untuk kata mengharapkan (Ibr. Hochalti). Berasal dari akar kata Yachal yang berarti: mengharap, menantikan dengan sabar atau dengan mempercayai.















