RELIGI  

MTPJ GMIM 22-28 Februari 2026 (Minggu Sengsara I) : Pada Tuhan Ada Pengampunan

Sehingga penantian pemazmur di sini sebagai ekspresi iman yang aktif dan sabar. Penantian ini didasarkan pada firman Tuhan Allah, yang menjadi dasar pengharapan sejati.

Ayat 6. Pemazmur menggambarkan pengharapan itu seperti pengawal yang menjaga kota di malam hari, atau para Imam dan orang Lewi yang berjaga di Bait Suci.

Yang, karena lelah dan kurang istirahat, sungguh-sungguh menginginkan dan dengan penuh harap mengharapkan fajar cepat menyingsing, agar mereka dapat menyelesaikan tugas dan dapat beristirahat.

Ini mengacu pada kebiasaan bahwa salah seorang Lewi yang bertugas di Bait Suci ditunjuk untuk berjaga sampai fajar menyingsing, saat korban harian harus dipersembahkan.

Orang Lewi berjaga dengan penuh harap menantikan fajar yang tidak hanya akan membawa kelegaan dari kerja keras tetapi berkat positif, dalam kepastian baru akan belas kasihan perjanjian Tuhan Allah.

Ayat 7. “Berharaplah” (Ibr. Yachel) atau “Nantikan dengan sabar”. Seruan kepada Israel untuk berharap pada Tuhan Allah sebagai panggilan kepada Gereja, yang adalah “Israel rohani.”

Kata “kasih setia” (Ibr. Hesed) menunjukkan kesetiaan Tuhan Allah pada perjanjian-Nya, dan “penebusan” menegaskan kuasa-Nya untuk membebaskan umat-Nya dari dosa.

Penebusan ini bersifat menyeluruh, mencakup baik individu maupun komunitas. Ungkapan “Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya” dalam ayat 8, menunjukkan kuasa Tuhan Allah untuk menghapus dosa umat-Nya secara menyeluruh.

Dalam Perjanjian Baru, hal ini berhubungan dengan karya Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya menyediakan pengampunan penuh.